Kenapa Rupiah Melemah? Pak Chatib Basri Bongkar Penyebabnya
Kenapa Rupiah Melemah? Saat rupiah tembus Rp18.000, banyak yang langsung menunjuk faktor luar: perang, geopolitik, dolar yang menguat.
Tapi dalam Grab Business Forum 2026 (Jakarta, 9 Juni 2026), mantan Menteri Keuangan Chatib Basri membawa data yang menantang anggapan itu.
Mari kita ikuti alur pembuktiannya, langkah demi langkah.
Temuan Utama Rupiah Melemah karena Risiko Fiskal

Inti paparan Chatib Basri cukup mengejutkan pelemahan rupiah belakangan ini bukan semata karena perang atau faktor global, melainkan karena risiko fiskal Indonesia yaitu kekhawatiran pasar terhadap kesehatan keuangan negara.
Indikator yang ia pakai untuk mengukurnya adalah CDS (Credit Default Swap). Sebelum masuk ke pembuktian datanya, kita perlu paham dulu: apa itu CDS?
Baca Juga Dolar Tembus Rp18.000 Rupiah Sanggupkah APBN 2026 Bertahan?
Apa Itu CDS? Asuransi Anti-Gagal-Bayar
Bayangkan kamu meminjamkan uang ke seseorang, lalu kamu beli asuransi yang akan menggantinya kalau orang itu gagal bayar. Itulah CDS, tapi untuk utang negara.
Ketika investor memegang obligasi (surat utang) pemerintah, mereka bisa membeli CDS sebagai proteksi risiko jaminan kalau negara gagal membayar utangnya. Logikanya:

Makin tinggi angka CDS = makin tinggi kekhawatiran pasar terhadap risiko gagal bayar negara = makin rendah kepercayaan investor.
Nah, kalau kita gambar grafik CDS Indonesia dan kurs rupiah (USD/IDR) dari 2020–2026, keduanya bergerak beriringan saat CDS naik, kurs juga naik (rupiah melemah).
Tapi ini baru kebetulan visual belum tentu sebab-akibat.
Korelasi Belum Tentu Sebab Masuk Uji Granger

Di sinilah letak kehati-hatian ilmiahnya. Dua hal bergerak bersamaan belum berarti yang satu menyebabkan yang lain. Pertanyaannya:
CDS naik dulu baru kurs naik? Atau kurs naik dulu baru CDS naik?
Untuk menjawabnya, dipakai metode bernama Granger Causality — uji statistik untuk melihat siapa yang gerak lebih dulu dan bisa memprediksi yang lain.
Sederhananya: apakah pergerakan CDS kemarin membantu menebak pergerakan rupiah hari ini?
Caranya dengan model yang kira-kira berbunyi: “perubahan kurs hari ini dipengaruhi oleh perubahan kurs kemarin dan perubahan CDS kemarin.” Lalu dilihat angka p-value-nya. Aturannya gampang:
Kalau p < 0,05 → hubungannya signifikan (bukan kebetulan).
Hasilnya CDS yang Memimpin Rupiah
Setelah diuji, hasilnya jelas:

- CDS → Rupiah: signifikan di hampir semua jeda waktu (p < 0,0001). Efek “memimpin” yang kuat.
- Rupiah → CDS: ada juga, tapi jauh lebih lemah.
Artinya hubungannya memang dua arah, tapi risiko fiskal (CDS) yang dominan memimpin. CDS bergerak duluan, rupiah mengikuti.
Untuk memastikan, dipakai alat kedua: IRF (Impulse Response Function) — ibarat “mencolek” CDS dengan satu guncangan tiba-tiba, lalu mengamati reaksi rupiah hari demi hari.
Hasilnya: ketika CDS dikejutkan naik, rupiah ikut melemah selama sekitar 2 minggu sebelum efeknya mereda. Reaksi yang nyata dan bertahan.
Angkanya: 22,9% Gerakan Rupiah Berasal dari CDS
Seberapa besar pengaruhnya? Dari seluruh naik-turun rupiah dalam 10 hari, bisa ditelusuri sumbernya:

- 22,9% pergerakan rupiah bisa dijelaskan oleh guncangan CDS.
- Sebaliknya, hanya 2,3% pergerakan CDS yang berasal dari guncangan rupiah.
Ketimpangan ini (22,9% vs 2,3%) jadi bukti kunci: CDS jauh lebih banyak menggerakkan rupiah ketimbang sebaliknya. Maka kesimpulan statistiknya tegas:
CDS naik → rupiah melemah. Terbukti dengan data, bukan sekadar dugaan.
Yang menarik, Chatib mencatat angka CDS Indonesia sudah memburuk sejak Januari 2026 jauh sebelum konflik Timur Tengah memanas, dipicu antara lain kekhawatiran pasar terhadap defisit anggaran yang diprediksi mendekati batas 3%. Ini memperkuat argumennya: akar masalahnya fiskal, bukan perang.
Kesimpulan Mau Rupiah Menguat? Perbaiki Dulu Kredibilitas Fiskal
Semua pembuktian tadi bermuara pada satu rantai sebab-akibat:
Risiko fiskal naik → Rupiah melemah.
Bukti ini penting sekali, karena membalik cara kita memahami masalah. Kalau rupiah ingin menguat, yang harus dibenahi bukan sekadar pasokan dolar, melainkan dua akarnya:

- Risiko fiskal — kesehatan anggaran negara
- Kredibilitas kebijakan — kepercayaan pasar bahwa pemerintah mengelola fiskal dengan disiplin
Kalau dua hal ini diperbaiki, rantainya bekerja terbalik dan menguntungkan:
Kredibilitas fiskal membaik → CDS turun → kurs turun (rupiah menguat).
Dengan kata lain, kunci penguatan rupiah bukan di luar negeri, tapi di tangan kita sendiri: menjaga anggaran tetap sehat dan kredibel.
Seperti kata Chatib, ini soal confidence dan kalau kepercayaan itu dipulihkan, ada harapan rupiah bisa diperbaiki. Sekali lagi terbukti, bahkan penyebab melemahnya rupiah pun semua bisa dihitung.
Jika kamu merasa penjalasan di atas kurang mengerti YUKK tonton videonya disini!