Gus Ulil Bantah Tambang Penyebab Banjir Sumatra? Ini Faktanya
Banjir Sumatra 2025 menjadi salah satu bencana paling mematikan dalam sejarah modern Indonesia, dengan lebih dari 1.200 korban jiwa di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Di tengah duka, muncul perdebatan sengit.
Ketua PBNU Gus Ulil menolak wacana zero mining dan membantah tambang sebagai penyebab bencana, sementara banyak pihak menuding kerusakan hutan dan aktivitas tambang ilegal sebagai biang keladi.
Rumus Q sama dengan C i A dan Arti Koefisien Runoff
Para ahli memakai satu rumus sederhana untuk memperkirakan debit air permukaan, yaitu metode rasional. Rumusnya menghubungkan debit dengan tiga hal.

Q = C × i × A
Q adalah debit air, C adalah koefisien runoff, i adalah intensitas hujan, dan A adalah luas daerah aliran sungai atau DAS.
Yang paling menentukan di sini adalah koefisien runoff, yaitu angka yang menggambarkan seberapa besar air hujan yang langsung mengalir di permukaan, bukan meresap ke tanah.

Nilainya sangat bergantung pada tutupan lahan. Hutan lebat memiliki C sekitar 0,05, artinya hanya 5 persen air yang mengalir dan 95 persen meresap.
Sebaliknya, lahan terbuka bekas tambang atau hutan gundul memiliki C sekitar 0,9, artinya 90 persen air langsung mengalir dan hanya 10 persen meresap.
Tabel standar koefisien runoff menegaskan pola ini, dari hutan lebat di kisaran 0,05 sampai 0,20, hingga permukaan beton dan aspal di kisaran 0,90 sampai 0,98.
Menghitung Koefisien Runoff Sebelum dan Sesudah Hutan Gundul
Kita terapkan ke ekosistem Batang Toru di Sumatra Utara, kawasan hutan seluas sekitar 168.658 hektar. Ketika masih utuh sebagai hutan lebat, koefisien runoffnya rendah, yaitu sekitar 0,05.

C awal ≈ 0,05
Masalah muncul ketika sebagian hutan hilang. Data yang dilaporkan menyebut sekitar 75.000 hektar hutan Batang Toru gundul akibat pembalakan dan pembukaan lahan.

Bagian yang gundul ini berubah menjadi lahan terbuka dengan C sekitar 0,9, sementara sisa hutan seluas sekitar 93.658 hektar tetap 0,05. Koefisien gabungannya dihitung dengan rata rata tertimbang.
C akhir = (75.000 × 0,9 + 93.658 × 0,05) ÷ 168.658 ≈ 0,42

Hasilnya melonjak dari 0,05 menjadi sekitar 0,42, atau naik sekitar 8,4 kali lipat. Dengan kata lain, kemampuan kawasan ini menyerap air anjlok drastis hanya karena hutannya berkurang.
Curah Hujan Ekstrem sebagai Pemicu Utama
Perlu ditegaskan, pemicu utama banjir ini tetap cuaca ekstrem. Siklon Tropis Senyar yang terbentuk di Selat Malaka pada akhir November 2025 memicu hujan luar biasa deras.
Curah hujan harian di pesisir barat Sumatra mencapai 160 sampai 226 milimeter per hari, jauh di atas rata rata bulanan yang hanya sekitar 150 milimeter.

Di Aceh bahkan menembus 300 milimeter per hari, sementara di Tapanuli Tengah dan Sibolga mencapai 800 milimeter hanya dalam empat hari.
Bayangkan tiga ember yang menampung hujan. Ember pertama menerima 150 milimeter dalam sebulan, masih wajar. Ember kedua menerima 150 milimeter dalam sehari.
Ember ketiga menerima 300 milimeter dalam sehari, tumpah ruah. Hujan sebesar ini akan tetap berbahaya di mana pun. Namun seberapa parah dampaknya sangat ditentukan oleh kondisi tanah yang menerimanya, dan di sinilah tutupan hutan berperan besar.
Menghitung Lonjakan Debit Banjir
Sekarang kita hitung debitnya dengan rumus tadi. Luas DAS Batang Toru sekitar 3.300 kilometer persegi atau 3,3 miliar meter persegi, dan kita pakai intensitas hujan yang sama, yaitu 0,15 meter, agar yang berubah hanya koefisien runoffnya.
Saat hutan masih utuh dengan C 0,05, debitnya sebagai berikut.

Q = 0,05 × 0,15 × 3.300.000.000 = 24.750.000 m³ per hari
24.750.000 ÷ 86.400 ≈ 286 m³ per detik
Setelah hutan gundul dengan C 0,42, debitnya melonjak tajam.
Q = 0,42 × 0,15 × 3.300.000.000 = 207.900.000 m³ per hari
207.900.000 ÷ 86.400 ≈ 2.406 m³ per detik
Dari sekitar 286 meter kubik per detik menjadi sekitar 2.406 meter kubik per detik, debitnya membengkak sekitar 8,4 kali lipat, hanya karena koefisien runoff berubah. Hujannya sama, tetapi air yang mengalir jauh lebih dahsyat.
Baca Juga Jakarta dan Semarang Terancam Tenggelam 25 Tahun Lagi! Ini Cara Menghitungnya
Membandingkan Debit dengan Batas Maksimum Sungai
Angka itu baru bermakna ketika dibandingkan dengan kapasitas sungainya. Studi Muhtadi dan kawan kawan pada 2020 mencatat debit maksimum Sungai Batang Toru dalam kondisi normal sekitar 484 meter kubik per detik.

Debit saat hutan masih utuh, yaitu 286 meter kubik per detik, masih berada di bawah batas maksimum 484, sehingga sungai relatif mampu menampungnya.
Namun setelah hutan gundul, debit 2.406 meter kubik per detik jauh melampaui batas 484. Sungai tidak lagi sanggup menampung, air meluap, dan terjadilah banjir bandang.
Hitungan ini menunjukkan bahwa hilangnya tutupan hutan menjadi salah satu faktor besar yang memperparah banjir. Cuaca ekstrem adalah pemicunya, tetapi kerusakan hutan di hulu mengubah hujan lebat menjadi bencana yang jauh lebih mematikan.
Kesimpulan ini sejalan dengan penilaian para pakar, yang menyebut bencana Sumatra sebagai gabungan cuaca ekstrem dan degradasi lingkungan di hulu.
Baca Juga Pidato Dedi Mulyadi soal Hutan Gundul, 858 Ribu Hektare Hilang Tiap Tahu
Energi Kinetik dan Daya Rusak yang Melonjak
Debit yang lebih besar tidak hanya berarti air lebih banyak, tetapi juga lebih merusak. Energi kinetik air, yaitu tenaga penghancurnya, dihitung dari massa dan kecepatan.

Ek = ½ × m × v² = ½ × m × (Q ÷ A)²
Karena kecepatan air sebanding dengan debit, energi kinetik sebanding dengan kuadrat debit.
Ek sebanding dengan Q²
Artinya, jika debit naik 8,4 kali, energi kinetiknya naik sebesar 8,4 dikuadratkan.
Ek akhir = 8,4² × Ek awal = 70,56 × Ek awal
Daya gerus air terhadap tebing sungai, jembatan, dan rumah meningkat sekitar 70,56 kali lipat. Inilah yang menjelaskan mengapa banjir ini begitu menghancurkan, menyeret kayu gelondongan, memutus lebih dari 400 jembatan, dan meratakan permukiman.
Kenapa Zero Mining Bukan Jawaban

Jika tambang dan deforestasi memperparah banjir, apakah solusinya menghentikan seluruh tambang atau zero mining? Di sinilah poin Gus Ulil ada benarnya.
Kehidupan modern sangat bergantung pada hasil tambang, dan menghentikannya sama sekali memang tidak realistis.
Nikel, kobalt, dan litium menjadi bahan baterai untuk kendaraan listrik, ponsel, dan laptop. Besi, baja, dan aluminium menjadi tulang jembatan, rumah, dan jalan. Emas, silikon, dan perak menjadi komponen semikonduktor yang menghidupkan hampir semua perangkat elektronik.
Tanpa pertambangan, banyak sektor ekonomi akan lumpuh. Jadi menyalahkan tambang secara membabi buta juga bukan sikap yang tepat.
Solusi, Tambang Legal dengan AMDAL dan Reboisasi
Jawaban yang lebih masuk akal bukan zero mining, melainkan tambang yang legal dan diatur ketat. Tambang ilegal berbahaya justru karena beroperasi tanpa AMDAL dan tanpa kajian lingkungan, sehingga membuka lahan seenaknya, menaikkan koefisien runoff, dan memperbesar debit banjir.

Sebaliknya, tambang legal wajib melewati AMDAL yang ketat, menjaga agar koefisien runoff tetap di bawah ambang aman, dan melakukan reboisasi setelah masa tambang selesai. Dengan reboisasi, tutupan hutan pulih, koefisien runoff turun, dan debit banjir ikut mengecil.
Kuncinya bukan berhenti menambang, melainkan menambang dengan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Jika Penjelasan dari artikel di atas masih kurang mengerti YUKK tonton videonya di sini