Gaji Guru Honorer VS Anggaran MBG, Benarkah
Isu gaji guru honorer kembali menyulut perdebatan setelah video seorang guru honorer yang membandingkan penghasilannya dengan sopir program Makan Bergizi Gratis viral sejak Januari 2026.
Dalam kisah yang beredar, ada guru honorer yang gajinya dipotong dari Rp600 ribu menjadi Rp200 ribu, sementara sopir MBG disebut menerima sekitar Rp3 juta per bulan.
Banyak orang lalu bertanya berapa gaji guru honorer sebenarnya, apakah benar di bawah upah minimum, dan berapa gaji guru honorer 2026 setelah ada insentif baru.
Berapa Gaji Guru Honorer di Indonesia Saat Ini
Sebelum menghitung, penting tahu titik awalnya. Berdasarkan berbagai laporan pada 2025 dan 2026, gaji guru honorer di jenjang SD, SMP, maupun SMA umumnya berkisar Rp300 ribu hingga Rp2 juta per bulan, dan sebagian bahkan menerima di bawah Rp500 ribu.
Karena banyak yang dibayar per jam mengajar dari dana BOS, upahnya sering hanya Rp15 ribu hingga Rp50 ribu per jam, jauh di bawah upah minimum regional yang reratanya sekitar Rp3,26 juta per bulan pada 2026.
Pemerintah menaikkan insentif guru honorer atau guru non ASN menjadi Rp400 ribu per bulan mulai 2026, tetapi banyak yang menilai tambahan itu belum cukup, sehingga sebagian guru berusaha beralih status menjadi PPPK.
Dari kondisi ini kita ambil dua angka kunci, yaitu gaji sekarang sekitar Rp500 ribu dan target gaji layak setara upah minimum Rp3,26 juta.
Baca Juga Korupsi MBG 1M Diduga Bocor Setara 46.770 Orang Bisa Makan Sehari
Rumus Menghitung Biaya agar Semua Guru Honorer Sejahtera
Untuk membuat seluruh guru honorer bergaji layak, kita hitung selisih gaji dikalikan jumlah guru dan jumlah bulan dalam setahun.

Biaya tahunan ditulis ΔG, jumlah guru honorer N, target gaji Wt, dan gaji sekarang Wo. Menurut data Kementerian Pendidikan yang dikutip Media Indonesia, jumlah guru honorer di Indonesia pada 2022 sekitar 704.503 orang, angka yang kita pakai sebagai N.


ΔG = N × (Wt dikurangi Wo) × 12 = 704.503 × (3.260.000 dikurangi 500.000) × 12 ≈ 23,33 triliun
Artinya hanya dibutuhkan sekitar Rp23,33 triliun per tahun untuk menaikkan gaji seluruh guru honorer hingga setara upah minimum.
Sebagai pembanding, anggaran MBG 2026 mencapai Rp335 triliun, lebih dari empat belas kali lipat angka tersebut.
Baca Juga Cairkan JHT Saat Pensiun Kena Pajak Rp12 Juta? Ini Aturan dan Hitungannya
Hanya Butuh 25 Hari Anggaran MBG untuk Setahun Gaji Layak
Perbandingan menjadi makin tajam kalau anggaran MBG dipecah per hari. Dengan Rp335 triliun setahun, program itu menyerap sekitar Rp0,91 triliun setiap hari, yaitu 335 dibagi 365 hari.
Maka waktu yang dibutuhkan anggaran MBG untuk menutup kebutuhan gaji layak semua guru honorer dihitung seperti berikut.

Jumlah hari = 23,33 ÷ (335 ÷ 365) = 23,33 ÷ 0,91 ≈ 25,6 hari
Dengan kata lain, cukup sekitar 25 hari anggaran MBG untuk menggaji seluruh guru honorer se Indonesia secara layak selama satu tahun penuh.
MBG Libur Hari Minggu Saja Sudah Cukup Menggaji Guru
Skenario kedua bahkan tidak perlu menghentikan MBG. Cukup MBG diliburkan setiap hari Minggu, yang berarti sekitar 48 hari libur dalam setahun dari empat Minggu dikali dua belas bulan.
Jika dana 48 hari itu dialihkan untuk menutup kebutuhan yang setara 25 hari gaji guru, rasionya 1,92, sehingga setiap guru honorer bisa memperoleh gaji berikut.

Gaji = Wt × (48 ÷ 25) = 3.260.000 × 1,92 ≈ 6,25 juta
Artinya dengan MBG libur hari Minggu saja, semua guru honorer sudah bisa digaji sekitar Rp6,25 juta per bulan, jauh di atas upah minimum.
Dana Abadi Guru sebagai Solusi Permanen
Solusi ketiga bersifat jangka panjang, yaitu dana abadi guru atau endowment. Bayangkan dana Rp335 triliun tidak dihabiskan dalam setahun, melainkan ditanam sebagai pokok abadi dan hanya hasil investasinya yang dipakai.
Dengan asumsi imbal hasil 7 persen per tahun, hasilnya sebagai berikut.

Imbal hasil = 335 × 7 persen ≈ 23,45 triliun
Angka Rp23,45 triliun per tahun itu praktis sama dengan kebutuhan Rp23,33 triliun untuk menggaji semua guru honorer.
Artinya dengan menunda MBG satu tahun untuk membentuk dana abadi, gaji layak seluruh guru honorer bisa terpenuhi setiap tahun secara berkelanjutan tanpa menghabiskan pokoknya, sementara MBG tetap bisa berjalan pada tahun berikutnya.
Masalahnya Bukan Uang Melainkan Prioritas
Ketiga hitungan di atas menuju satu kesimpulan yang sama. Persoalan gaji guru honorer bukan karena negara tidak punya uang atau karena biayanya mahal, melainkan karena kesejahteraan guru kalah prioritas.

Hanya dengan sekitar Rp23,33 triliun, atau setara 25 hari anggaran MBG, semua guru honorer sudah bisa digaji layak.
Tentu pilihan ini perlu ditimbang secara adil. Pendukung MBG menegaskan program ini adalah investasi sumber daya manusia yang menjangkau 82,9 juta penerima dan diklaim menggerakkan ekonomi daerah.
Di sisi lain, sejumlah guru dan dosen menggugat ke Mahkamah Konstitusi karena menilai MBG memakai anggaran pendidikan sehingga porsi pendidikan murni turun di bawah ambang 20 persen yang diamanatkan konstitusi.
Perdebatan itu justru menunjukkan bahwa pilihan anggaran adalah soal keberpihakan, bukan sekadar ketersediaan dana.
Sebagai catatan, seluruh angka di sini bersifat ilustratif dan bukan prediksi resmi. Jumlah guru honorer bervariasi antar sumber, dari 704.503 orang pada 2022 hingga sekitar 798.905 menurut data yang lebih baru, dan anggaran MBG Rp335 triliun terdiri dari alokasi Badan Gizi Nasional sekitar Rp268 triliun ditambah dana cadangan Rp67 triliun.
Perhitungan ini memakai angka rerata untuk menggambarkan skala, bukan nominal pasti tiap individu.
Jika penjelasan dari artikel di atas masih kurang mengerti YUKK tonton videonya di sini