Suku Bunga Acuan Tembus 5,75% Naik 3 Kali Dalam Sebulan!
Rupiah sempat melemah hingga sekitar Rp17.700 per dolar Amerika Serikat pada pertengahan Mei 2026. Tekanan ini memaksa Bank Indonesia berbalik arah.
Setelah lebih dari setahun rajin memangkas suku bunga, bank sentral kini menaikkan BI Rate untuk pertama kali sejak April 2024.
Dari 4,75%, bunga acuan naik 50 basis poin ke 5,25%, lalu terus naik bertahap sampai 5,75% pada Juni 2026.
Perjalanan BI Rate dari Pelonggaran ke Pengetatan

Sepanjang 2025, Bank Indonesia sibuk melonggarkan kebijakan. BI Rate diturunkan dari 5,50% lewat tiga kali pemangkasan 25 basis poin hingga menjadi 4,75%.
Level 4,75% itu bertahan beberapa bulan di tengah ekonomi global yang belum pasti.
Arah berubah pada Mei 2026. Rupiah yang tertekan membuat bank sentral menaikkan BI Rate 50 basis poin sekaligus, kenaikan pertama sejak April 2024.
Karena tekanan belum reda, BI menambah dua kali kenaikan 25 basis poin sepanjang Juni 2026. Suku bunga acuan pun kini berada di 5,75%.
Hitungan
50 bps + 25 bps + 25 bps = 100 bps
5,75% dikurangi 4,75% = 1,00%
Total kenaikannya 100 basis poin atau satu persen penuh, hanya dalam sekitar dua bulan. Angka inilah titik awal untuk memahami efek berantai berikutnya.
Bunga Naik Membuat SBN dan Deposito Lebih Menarik
Kenaikan BI Rate tidak berhenti di angka acuan saja. Efeknya menjalar ke imbal hasil produk berbasis rupiah.
Saat bunga acuan naik, bunga deposito bank dan imbal hasil Surat Berharga Negara ikut naik.
Produk rupiah yang tadinya biasa saja mendadak menawarkan untung lebih besar. Dua kelompok pun tertarik sekaligus.
Yang pertama investor pemburu imbal hasil, yang kedua masyarakat yang ingin menyimpan uang. Dari sinilah rupiah mulai menguat.
Jalur Investor Asing Mengangkat Rupiah
Imbal hasil yang lebih tinggi paling cepat menarik investor asing. Mereka masuk memborong produk rupiah.
Contohnya Sukuk Ritel, Obligasi Negara Ritel, Sukuk Tabungan, sampai Sekuritas Rupiah Bank Indonesia yang jadi andalan bank sentral belakangan ini.
Masalahnya, produk itu dibeli pakai rupiah, sedangkan investor asing pegang dolar. Jadi mereka harus menjual dolar dulu, lalu menukarnya jadi rupiah.
Aksi jual dolar dan borong rupiah inilah yang menambah permintaan rupiah sekaligus menahan pelemahannya.
Baca Juga Kenapa Rupiah Melemah? Pak Chatib Basri Bongkar Penyebabnya
Jalur Masyarakat, Dorongan Menabung dan Rem Kredit

Di sisi masyarakat, efeknya bekerja dua arah. Bunga deposito naik, jadi menabung terasa lebih menguntungkan.
Di saat yang sama, bunga kredit juga naik sehingga meminjam jadi lebih mahal. Minat mengambil cicilan untuk baju, gawai, sampai rumah pun menurun.
Belanja yang melambat menekan permintaan barang secara keseluruhan. Sesuai hukum penawaran dan permintaan, permintaan yang lemah menahan kenaikan harga sehingga inflasi mereda.

Inflasi yang rendah menjaga nilai rupiah, dan daya beli masyarakat pun ikut terlindungi.
Kedua jalur ini bertemu di satu titik. Dana asing yang memborong rupiah dan inflasi yang terkendali secara bersamaan mengangkat permintaan rupiah, dan itulah tujuan utama Bank Indonesia.
Kenapa Tidak Dinaikkan Sejak Awal dan Hanya Bertahap
Setiap kenaikan BI Rate otomatis menaikkan bunga kredit bank. Alat yang dipakai untuk menarik dana asing dan meredam inflasi ternyata juga menekan ekonomi dalam negeri.
Di sinilah dilemanya. Beban itu tidak ditanggung bank sentral, tetapi berpindah ke masyarakat dan pelaku usaha.
Baca Juga Rupiah Melemah Bikin Indonesia Untung atau Rugi? Ini Hitungannya
Beban Berpindah ke Masyarakat dan Pengusaha

Bagi masyarakat, bunga kredit yang naik berarti cicilan membengkak, dari kredit rumah sampai kendaraan. Padahal gaji cenderung tetap.
Selisih ini memangkas ruang belanja, dan konsumsi rumah tangga pun melemah.
Bagi pengusaha, biaya modal jadi lebih mahal. Banyak rencana ekspansi ditunda atau dibatalkan karena ongkos pinjaman tidak lagi sepadan dengan proyeksi untung.
Akibatnya, investasi swasta ikut melambat.
Dua tekanan ini bertemu di rumus dasar pertumbuhan ekonomi. Produk Domestik Bruto dihitung dari penjumlahan komponen berikut.
Hitungan
Y = C + I + G + (X dikurangi M)
Y adalah Produk Domestik Bruto, C konsumsi rumah tangga, I investasi, G belanja pemerintah, dan X dikurangi M adalah selisih ekspor terhadap impor.
Ketika konsumsi dan investasi keduanya tertekan, komponen C dan I mengecil sehingga pertumbuhan ekonomi Y ikut melambat. Inilah harga jangka pendek dari upaya menstabilkan rupiah.
Kenapa Bank Indonesia Tidak Menaikkan Bunga Secara Ekstrem

Kenapa kenaikannya terukur dan tidak ekstrem bisa dijawab lewat perbandingan dengan negara lain. BI Rate Indonesia di 5,75% sebenarnya tergolong rendah.
Beberapa negara yang inflasinya parah justru terpaksa menaikkan suku bunga jauh lebih tinggi.
Turki pernah menaikkan bunga acuan sampai 50% saat inflasinya ekstrem. Argentina bahkan menembus 133% pada 2023 di puncak krisis harganya.
Di level setinggi itu, biaya modal jadi mustahil dipenuhi pelaku usaha.
Inflasi Indonesia jauh lebih ringan, sekitar 3% pada Mei 2026 dan masih dalam kisaran sasaran 2,5% dengan toleransi satu persen.
Itulah alasan BI memilih pola 50 lalu 25 lalu 25 basis poin, bukan lonjakan tunggal yang mengejutkan.
Jika penjelasan dari artikel di atas masiih kurang mengerti YUKK tonton videonya di sini