Rupiah Melemah, BI Borong SBN Rp111 Triliun, Apa Hubungannya
Rupiah melemah hari ini menjadi salah satu topik ekonomi yang paling banyak dicari, apalagi setelah nilai tukar terus tertekan sepanjang April 2026.
Pada 21 April 2026 rupiah tercatat sekitar Rp17.140 per dolar Amerika Serikat, lalu melanjutkan pelemahan hingga menembus Rp17.324,50 pada awal Mei 2026.
Pertanyaanya kenapa BI beli SBN untuk jaga rupiah dan apa sebenarnya hubungannya membeli surat utang negara dengan pergerakan kurs?
Bank Indonesia tercatat memborong Surat Berharga Negara hingga Rp111,54 triliun sampai 21 April 2026, sebuah angka besar yang sekilas terlihat tidak nyambung dengan urusan menjaga rupiah.
Apa Itu SBN dan Alasan Bank Indonesia Ikut Membelinya
Surat Berharga Negara atau SBN adalah surat utang negara yang diterbitkan pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Keuangan untuk membiayai anggaran.
Ketika seseorang membeli SBN, pada dasarnya ia meminjamkan uang kepada negara dan menerima imbalan berupa kupon secara berkala, lalu pokoknya dikembalikan saat jatuh tempo.
Karena dijamin negara, SBN dikenal sebagai instrumen investasi yang rendah risiko.
Ada beragam jenis SBN yang biasa dicari investor ritel, yakni Obligasi Negara Ritel atau ORI, Sukuk Ritel, Savings Bond Ritel, dan Sukuk Tabungan.
Baca Juga Kenapa Rupiah Melemah? Pak Chatib Basri Bongkar Penyebabnya
Rumus Uang Primer M0 yaitu NFA Ditambah NDA
Kunci dari semua ini adalah uang primer atau M0, yaitu uang inti yang menjadi fondasi seluruh uang beredar.
M0 terdiri dari uang kartal yang diedarkan ditambah simpanan giro bank umum di Bank Indonesia. Dalam neraca Bank Indonesia, uang primer selalu bersumber dari dua sisi, yaitu aktiva luar negeri bersih dan aktiva dalam negeri bersih.
Rumusnya dapat ditulis sederhana.

M0 = NFA + NDA
NFA atau Net Foreign Assets adalah aktiva luar negeri bersih yang sebagian besar isinya cadangan devisa dalam bentuk dolar.
NDA atau Net Domestic Assets adalah aktiva dalam negeri bersih yang salah satu komponen utamanya adalah kepemilikan SBN oleh Bank Indonesia.

Bayangkan Bank Indonesia memiliki tiga ember, yaitu ember dolar untuk NFA, ember SBN untuk NDA, dan ember rupiah yang menampung uang primer M0.
Ketiga ember ini saling terhubung, sehingga ketika satu ember berkurang, ember lain harus mengisi agar tinggi air M0 tetap terjaga.
Baca Juga Dolar Tembus Rp18.000 Rupiah Sanggupkah APBN 2026 Bertahan? Ini Hitungannya
Ketika Permintaan Dolar Lebih Besar dari Pasokan
Tekanan bermula dari pasar valuta asing. Ketika banyak pelaku ekonomi membutuhkan dolar, permintaan dolar melonjak melebihi pasokan yang tersedia.

Kondisi permintaan yang lebih besar daripada pasokan inilah yang menekan rupiah, sehingga nilai tukar terus naik menjauhi level yang diharapkan.
Untuk meredam gejolak, Bank Indonesia turun tangan dengan menjual dolar dari cadangan devisa. Langkah ini menambah pasokan dolar di pasar agar rupiah tidak jatuh terlalu dalam.
Dalam analogi ember, aksi ini sama dengan menuang keluar isi ember dolar. Air di ember dolar berkurang, yang berarti NFA pada neraca Bank Indonesia ikut menurun.

Rupiah Justru Mengering di Pasar
Menjual dolar memang menahan pelemahan rupiah, tetapi ada efek samping yang jarang disadari. Saat Bank Indonesia menjual dolar, pihak yang membeli harus menyerahkan rupiah sebagai pembayaran.

Rupiah itu masuk kembali ke Bank Indonesia dan keluar dari peredaran. Akibatnya jumlah rupiah yang beredar di pasar menyusut, atau dalam istilah sederhana rupiah menjadi kering.
Dalam kerangka uang primer, penurunan NFA akibat penjualan dolar membuat M0 ikut mengecil. Hubungan ini bisa dilihat pada persamaan berikut.

M0 (turun) = NFA (turun) + NDA
Jika likuiditas rupiah dibiarkan mengering, suku bunga di pasar uang bisa melonjak dan roda ekonomi tersendat. Di titik inilah Bank Indonesia membutuhkan cara untuk mengisi kembali ember rupiah tanpa menambah tekanan pada rupiah itu sendiri.
Bank Indonesia Membeli SBN untuk Mengembalikan Likuiditas
Solusinya justru memutar kembali ke SBN. Bank Indonesia menuang isi ember rupiah kembali ke pasar dengan cara membeli SBN dari pelaku pasar di pasar sekunder.

Rupiah yang tadi terserap kini mengalir lagi ke pasar sebagai pembayaran atas SBN yang dibeli. Dengan begitu ember rupiah terisi ulang, likuiditas kembali normal, dan M0 tetap terjaga meskipun NFA sempat turun.
Langkah ini menjawab pertanyaan awal, yaitu kenapa BI beli SBN untuk jaga rupiah. Membeli SBN adalah cara menyuntikkan kembali rupiah ke sistem keuangan agar likuiditas tidak mengering, sekaligus menjaga agar pasar SBN tidak panik ketika banyak investor menjual.
Dua tujuan berjalan bersamaan, yaitu menjaga likuiditas rupiah dan menjaga ketenangan pasar SBN.
Bank Indonesia mencatat total pembelian SBN mencapai Rp111,54 triliun sampai 21 April 2026. Angka itu terbagi menjadi pembelian di pasar sekunder sebesar Rp56,53 triliun dan sisanya sebesar Rp55,01 triliun melalui mekanisme lain. Penjumlahan keduanya dapat dilihat berikut.

56,53 + 55,01 = 111,54 triliun rupiah
Menghitung Porsi Pembelian SBN terhadap Uang Primer
Seberapa besar sebenarnya suntikan SBN ini dibandingkan seluruh uang primer? Bank Indonesia melaporkan bahwa uang primer M0 Adjusted pada Maret 2026 tumbuh 16,8 persen secara tahunan atau yoy, sehingga tercatat sebesar Rp2.396,5 triliun.
Pertumbuhan ini melanjutkan capaian Februari 2026 sebesar 18,3 persen yoy dan didorong oleh giro bank umum di Bank Indonesia serta uang kartal yang beredar.
Dengan membandingkan nilai pembelian SBN terhadap total uang primer, kita memperoleh porsinya.

(111,54 ÷ 2.396,5) × 100 ≈ 4,65 persen
Hasilnya sekitar 4,65 persen. Artinya pembelian SBN senilai Rp111,54 triliun setara dengan hampir 5 persen dari seluruh uang primer nasional.
Angka ini menunjukkan bahwa suntikan likuiditas lewat SBN cukup berarti, tetapi masih berada dalam porsi yang terukur sehingga tidak langsung memicu lonjakan inflasi.
Kenapa Rupiah Masih Melemah Setelah Semua Langkah Itu
Pertanyaan lanjutan yang wajar muncul yaitu kenapa rupiah tetap melemah meskipun Bank Indonesia sudah menjual dolar dan membeli SBN.
Jawabannya karena tekanan terhadap rupiah datang dari faktor global yang jauh lebih besar daripada amunisi domestik. Setidaknya ada empat tekanan besar yang mendorong dolar menguat.

- Konflik dan perang di kawasan Timur Tengah yang meningkatkan ketidakpastian global.
- Harga minyak dan komoditas yang naik, sehingga kebutuhan dolar untuk impor membengkak.
- Indeks dolar atau DXY yang menguat, sehingga hampir semua mata uang melemah terhadap dolar.
- Arus modal global yang bergeser ke aset aman seperti obligasi Amerika Serikat dan emas.
Kombinasi keempat faktor tersebut membuat pelemahan rupiah tidak bisa dihentikan hanya dengan intervensi jangka pendek.
Bank Indonesia bukannya gagal, melainkan sedang menahan arus yang sumber tekanannya berada di luar kendali dalam negeri.
Aliran Modal Asing Keluar dari SBN dan Saham
Tekanan global tadi terlihat jelas pada pergerakan modal asing. Berdasarkan data yang beredar, terjadi arus keluar dari SBN sekitar Rp20 triliun dan arus keluar dari pasar saham atau IHSG yang jauh lebih besar, yaitu sekitar Rp44,8 triliun.

Di sisi lain masih ada aliran masuk melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI sekitar Rp53,9 triliun.
Jika dijumlahkan, arus keluar dari SBN dan saham masih lebih besar daripada arus masuk ke SRBI, sehingga secara neto modal asing cenderung keluar dari aset domestik.
Kondisi inilah yang membuat pembelian SBN oleh Bank Indonesia menjadi penting sebagai penahan jangka pendek.
Tanpa kehadiran Bank Indonesia di pasar, imbal hasil SBN bisa melonjak liar dan memicu kepanikan yang lebih luas.
Alasan Pembelian SBN Penting untuk Jangka Panjang
Yang dilakukan Bank Indonesia dengan membeli SBN memang berperan besar sebagai penstabil jangka pendek. Namun langkah ini juga memiliki arti untuk jangka panjang, karena kondisi global tidak bisa diprediksi dan tekanan bisa datang kapan saja.
Menjaga stabilitas rupiah serta pasar keuangan sejak dini membantu perekonomian menghadapi guncangan berikutnya.
Setidaknya ada tiga manfaat jangka panjang dari menjaga kestabilan ini.
- Mengurangi tekanan impor, karena kurs yang lebih stabil membuat biaya barang impor lebih terkendali.
- Memperbaiki iklim investasi, karena kepastian nilai tukar meningkatkan kepercayaan investor.
- Menjaga kredibilitas fiskal, karena pasar SBN yang tenang memudahkan pemerintah mengelola utang dengan biaya wajar.
Dengan begitu keputusan Bank Indonesia membeli SBN bukan sekadar reaksi sesaat terhadap rupiah melemah, melainkan bagian dari strategi menjaga fondasi ekonomi agar tetap kuat menghadapi ketidakpastian global.
Jika Penjelasan dari artikel di atas masih kurang mengerti YUKK tonton videonya di sini