Purbaya Sindir yang Sebut Ekonomi Hancur, PMI 53,8 Kini Anjlok ke 46,9
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyindir para ekonom yang menyebut ekonomi Indonesia sudah hancur. Di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, pada 16 Maret 2026, ia menyebut narasi itu ramai di TikTok dan meminta pengkritiknya melihat data yang benar.
Purbaya membawa tiga angka sebagai bukti. PMI Manufaktur 53,8, Indeks Keyakinan Konsumen 125,2, dan Mandiri Spending Index 360,7.
Tapi dari mana angka itu berasal? Tanpa tahu rumusnya, pembaca cuma bisa memilih percaya kepada salah satu kubu.
Tiga angka yang dipakai Purbaya sebagai bukti
PMI Manufaktur 53,8, IKK 125,2, dan MSI 360,7. Ketiganya disebut mencerminkan peningkatan aktivitas dan konsumsi masyarakat.
Semuanya indikator cepat, terbit bulanan, menangkap denyut ekonomi lebih dini daripada data resmi. Kelemahannya, indikator cepat juga paling gampang berbalik arah.
PMI Manufaktur Februari 2026 tercatat 53,8

Data Trading Economics menunjukkan PMI Indonesia menanjak sepanjang akhir 2025 lalu memuncak pada Februari 2026 di angka 53,8. Inilah angka yang dibawa Purbaya ke publik.
Lima komponen pembentuk PMI dan bobotnya
PMI bukan satu pertanyaan tunggal. Menurut S&P Global, ia gabungan lima komponen dengan bobot berbeda.

Bobot PMI PMI = 30% New order
- 20% Output
- 20% Employment
- 15% suppliers’ delivery times
- 10% Stocks of purchases
Pesanan baru diberi bobot terbesar karena paling awal menunjukkan arah permintaan.
Tiap komponen dihitung dengan indeks difusi. Jawaban membaik bernilai penuh, tetap bernilai setengah, memburuk bernilai nol.
Rumus indeks difusi Indeks = (% responden membaik) × 1
- (% responden tetap) × 0,5
- (% responden buruk) × 0
Karena strukturnya begitu, indeks mendarat tepat di 50 bila yang membaik sama banyak dengan yang memburuk.
Contoh hitungan lima komponen PMI
Berikut ilustrasi memakai angka misal untuk setiap komponen.

Contoh lima komponen New orders 40% naik, 30% tetap, 30% turun = 40 · 1 + 30 · 0,5 = 55 Output 36% naik, 28% tetap, 36% turun = 36 · 1 + 28 · 0,5 = 50 Employment 20% naik, 60% tetap, 20% turun = 20 · 1 + 60 · 0,5 = 50 Delivery 10% lambat, 70% sama, 20% cepat = 20 · 1 + 70 · 0,5 = 55 Stocks 30% naik, 40% tetap, 30% turun = 30 · 1 + 40 · 0,5 = 50
Hasil PMI dari contoh tadi
Kelima angka komponen tinggal dimasukkan ke rumus bobot.

Hasil PMI PMI = 30% · 55 + 20% · 50 + 20% · 50 + 15% · 55 + 10% · 50 PMI = 52
PMI tidak dibaca sebagai persentase, melainkan dibandingkan dengan ambang 50.
Ambang PMI PMI > 50 → ekspansi PMI = 50 → stagnan PMI < 50 → kontraksi
Karena itu PMI 53,8 pada Februari 2026 memang berarti manufaktur sedang berekspansi.
Cara menghitung satu komponen IKK

Ambil komponen Penghasilan Saat Ini yang tercatat 125,0.
Penghasilan saat ini 40% naik, 45% tetap, 15% turun 40 − 15 = 25 indeks = 25 + 100 = 125
Angka 100 adalah titik netral. Selisih antara yang menjawab naik dan yang menjawab turun ditambahkan ke situ.
Baca Juga Kenapa Rupiah Melemah? Pak Chatib Basri Bongkar Penyebabnya
IKE dan IEK dihitung dari rerata tiga komponen

IKE disusun dari penghasilan saat ini 125,0, ketersediaan lapangan kerja 110,7, dan pembelian barang tahan lama 112,0.
IKE IKE = (125 + 110,7 + 112) ÷ 3 = 115,9
IEK disusun dari ekspektasi penghasilan 140,7, ekspektasi lapangan kerja 131,7, dan ekspektasi kegiatan usaha 130,9.
IEK IEK = (140,7 + 131,7 + 130,9) ÷ 3 = 134,9
IKK adalah rerata dari IKE dan IEK

IKK IKK = (134,9 + 115,9) ÷ 2 = 125,2
Ambang IKK IKK > 100 → konsumen optimis IKK = 100 → netral IKK < 100 → konsumen pesimistis
Dengan IKK 125,2, konsumen Februari 2026 berada di zona optimis. Perlu dicatat, IKK mengukur persepsi, bukan belanja yang sungguh terjadi.
MSI adalah Mandiri Spending Index

Indikator ketiga adalah MSI, indeks belanja susunan Mandiri Institute. Nilainya 360,7 secara nasional, sementara daerah utama wisata berada di 270,8 dan 175,6.
MSI melacak belanja kartu debit, kartu kredit, dan kartu prabayar, lalu seluruh transaksi digital itu dinormalisasi menjadi indeks dengan baseline 100.
MSI MSI nasional = 360,7 baseline = 100 setara 3,6× baseline
Di sinilah kelemahannya. Metode dan rumus MSI tidak dipublikasikan, jadi tidak ada yang bisa memverifikasi secara independen. MSI juga hanya menangkap nasabah satu bank, dan hanya yang memakai kartu.
Baca Juga Suntik Rp100 Triliun ke Bank tapi Yield SBN Tetap Mendekati 7 Persen
Kemiskinan turun ke 8,47 persen

BPS mencatat penduduk miskin Maret 2025 sebanyak 23,85 juta orang atau 8,47 persen, turun dari 24,06 juta orang atau 8,57 persen pada September 2024.
Kemiskinan perkotaan 6,73 persen dan perdesaan 11,03 persen. Yang paling ekstrem adalah perdesaan Maluku dan Papua di angka 25,94 persen.
Pengangguran 4,76 persen, tapi sepertiga pekerja tidak penuh

Tingkat Pengangguran Terbuka Februari 2025 sebesar 4,76 persen, turun 0,06 poin dibanding tahun sebelumnya.
Namun pengangguran rendah tidak berarti pekerjaan berkualitas. Pekerja penuh 96,48 juta orang atau 66,19 persen, sisanya 49,29 juta orang atau 33,81 persen berstatus tidak penuh.
Rasio Gini turun ke 0,363
Ketimpangan pengeluaran juga membaik. Rasio Gini September 2025 sebesar 0,363, turun dari 0,375 pada Maret 2025. Makin kecil angkanya, makin merata sebaran pengeluaran.

Ekonomi tumbuh 5,39 persen pada triwulan IV 2025
PDB atas harga berlaku 2025 mencapai Rp23.821,1 triliun, dengan PDB per kapita Rp83.747.734 atau setara 5.083,4 dolar AS.
Perdagangan tumbuh 5,49 persen dan industri 5,30 persen, sedangkan pertambangan justru terkontraksi 0,66 persen. Ekspor tumbuh paling tinggi di 7,03 persen.
Pertumbuhan masih bertumpu pada Jawa
Jawa menyumbang 56,93 persen perekonomian dengan pertumbuhan 5,30 persen. Maluku dan Papua hanya 2,69 persen dengan pertumbuhan 1,44 persen, terendah di antara seluruh wilayah.
Perkembangan terbaru per Juli 2026
Inilah bagian terpenting. Angka yang sama, empat bulan kemudian, berbalik arah.

PMI Manufaktur Indonesia 2026 Februari 53,8 ← angka Purbaya Maret 50,1 April 49,1 Mei 50,0 Juni 46,9 ← kontraksi
Level 46,9 adalah yang terendah sejak Juni 2025. Pesanan baru turun paling tajam dalam setahun, ekspor merosot paling dalam sejak 2021, dan PHK di manufaktur paling besar dalam hampir lima tahun.
PDB triwulan I 2026 justru tumbuh 5,61 persen. Namun konsumsi pemerintah melonjak 21,81 persen, artinya pertumbuhan itu banyak ditopang belanja negara.
Jadi ekonomi hancur atau membaik
Jawaban jujurnya, keduanya bisa benar tergantung indikator mana dan bulan mana yang dilihat. Konsumsi dan pertumbuhan agregat bertahan, sementara manufaktur berdarah dan daya beli tertekan.
Justru itu alasan rumus di atas layak dipahami. Begitu tahu cara menghitungnya, pembaca tidak perlu menitipkan penilaian kepada Purbaya maupun kepada ekonom TikTok. Angkanya bisa dibaca sendiri.
Jika penjelasan dari artikel di atas masih kurang mengerti YUKK tonton video lengkapnya di sini