Bioetanol E10 Digadang Kurangi Impor BBM?

Bioetanol untuk apa – Pemerintah bakal mewajibkan campuran etanol 10 persen di dalam bensin lewat program mandatori E10. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut kebijakan bensin campur etanol ini bertujuan mengurangi impor BBM sekaligus menekan emisi, meniru keberhasilan biodiesel yang sudah menyentuh level B50.

Alasannya kuat. Indonesia memproduksi bensin sekitar 14,27 juta kiloliter pada 2025, sementara kebutuhannya mencapai 37,3 juta kiloliter. Selisih 23 juta kiloliter itu harus ditambal impor.

Apakah bioetanol benar solusi tercepat, atau ada jalan lain yang lebih murah dan lebih siap hari ini?

Elektrifikasi motor sebagai jalan alternatif

Indonesia adalah negara sepeda motor. Kalau konsumsi bensin terbesar datang dari motor, maka memindahkan motor dari bensin ke listrik akan langsung memangkas kebutuhan impor bensin di pangkalnya.

Ide ini bukan pengganti bioetanol, melainkan pembanding. Mana yang lebih murah, lebih cepat, dan lebih siap? Semua ini bisa dihitung.

Ada 145 juta motor di Indonesia pada 2025

Data BPS mencatat jumlah sepeda motor di Indonesia terus naik, dari 139,45 juta unit pada 2024 menjadi sekitar 145,25 juta unit pada 2025.

Angka inilah yang menjadi dasar seluruh perhitungan berikutnya. Setiap motor meminum bensin, dan jumlahnya menentukan seberapa besar potensi penghematan.

Satu motor menghabiskan 172,98 liter bensin per tahun

Data rata rata konsumsi bahan bakar per jenis kendaraan menyebut sepeda motor memakai 45,57 GGE per tahun. Satu GGE setara 3,785 liter.

Konsumsi bensin per motor 1 GGE = 3,785 L 45,57 GGE = 172,98 L per motor

Jadi satu sepeda motor menghabiskan sekitar 172,98 liter bensin dalam setahun.

Total konsumsi bensin motor tembus 25,05 juta kiloliter

Kalikan konsumsi per motor dengan jumlah seluruh motor, dan muncul total konsumsi bensin sepeda motor nasional.

Total konsumsi bensin motor Total = konsumsi per motor × jumlah motor Total = 172,98 L × 145.297.920 Total ≈ 25,05 juta kL

Angka 25,05 juta kiloliter ini setara 67,15 persen dari total kebutuhan bensin nasional. Artinya sepeda motor sendirian meminum dua pertiga bensin Indonesia.

Butuh 91,41 persen motor beralih ke listrik agar impor nol

Produksi bensin nasional pada 2025 sekitar 22,9 juta kiloliter. Kalau seluruh konsumsi motor sebesar 25,05 juta kiloliter dihapus, sisa bensin dari kendaraan lain bisa ditutup produksi dalam negeri.

Porsi elektrifikasi agar impor nol % = 22,9 ÷ 25,05 = 91,41%

Artinya kalau 91,41 persen motor bensin berubah menjadi motor listrik, Indonesia tidak perlu lagi mengimpor bensin sama sekali. Ini target yang jauh lebih terukur daripada menunggu pabrik etanol.

Berapa lahan tebu dan singkong untuk memenuhi bioetanol

Sebelum melanjutkan ke elektrifikasi, ada baiknya mengukur ongkos jalur bioetanol dari sisi lahan. Setiap skenario elektrifikasi menyisakan kebutuhan etanol yang harus ditanam.

Etanol yang dibutuhkan agar impor nol menurun seiring naiknya porsi motor listrik. Pada 25 persen motor listrik masih perlu 16,64 juta kiloliter etanol, pada 50 persen turun ke 10,37 juta kiloliter, pada 75 persen tinggal 4,11 juta kiloliter, dan pada 100 persen menjadi nol.

Satu hektar tebu menghasilkan 9,9 kiloliter etanol

Produktivitas tebu domestik sekitar 70 ton per hektar. Menurut jurnal IJAEM, satu ton tebu menghasilkan 70 liter etanol.

Etanol per hektar tebu Etanol per ha = produktivitas × konversi Etanol per ha = 70 ton/ha × 70 L/ton Etanol per ha = 4.900 L/ha ≈ 9,9 kL/ha

Dengan produktivitas segitu, satu hektar tebu menghasilkan sekitar 9,9 kiloliter etanol per tahun.

Skenario tebu butuh lahan sampai 3,35 juta hektar

Bagi kebutuhan etanol dengan hasil per hektar, muncul luas lahan tebu yang diperlukan.

Lahan tebu tiap skenario 25% motor listrik = 16,64 jt kL → 3,35 jt ha 50% motor listrik = 10,37 jt kL → 2,09 jt ha 75% motor listrik = 4,11 jt kL → 0,83 jt ha 100% motor listrik = 0 → 0 ha

Padahal luas panen tebu Indonesia pada 2025 diperkirakan cuma 526,45 ribu hektar. Skenario 25 persen motor listrik menuntut lahan tebu 6,36 kali lipat dari yang tersedia sekarang.

Satu hektar singkong menghasilkan 4,07 kiloliter etanol

Singkong sedikit lebih hemat lahan. Produktivitasnya 271,15 kuintal per hektar atau 27,115 ton per hektar, dengan konversi 150 liter etanol per ton.

Etanol per hektar singkong Etanol per ha = produktivitas × konversi Etanol per ha = 27,115 ton/ha × 150 L/ton Etanol per ha = 4.067,25 L/ha ≈ 4,07 kL/ha

Satu hektar singkong menghasilkan sekitar 4,07 kiloliter etanol per tahun.

Skenario singkong tetap menuntut lahan raksasa

Lahan singkong tiap skenario 25% motor listrik = 16,64 jt kL → 4,09 jt ha 50% motor listrik = 10,37 jt kL → 2,55 jt ha 75% motor listrik = 4,11 jt kL → 1,01 jt ha 100% motor listrik = 0 → 0 ha

Luas panen singkong Indonesia pada 2023 cuma 618.270 hektar. Skenario 25 persen motor listrik menuntut lahan singkong 6,61 kali lipat dari yang ada. Inilah beban tersembunyi jalur bioetanol, yaitu lahan yang harus bersaing dengan pangan.

Penghematan subsidi dari elektrifikasi motor mencapai Rp42,58 triliun

Sekarang hitung sisi elektrifikasi. Purbaya membongkar harga asli Pertalite adalah Rp11.700 per liter, sehingga pemerintah menanggung subsidi Rp1.700 per liter.

Penghematan subsidi negara Δ = subsidi × konsumsi bensin motor Δ = Rp1.700 × 25,05 juta kL Δ = 42,58 T

Kalau seluruh motor beralih ke listrik, negara berpotensi menghemat subsidi Rp42,58 triliun. Dana sebesar itu bisa dipakai membangun infrastruktur pengisian daya motor listrik.

Motor listrik lima kali lebih hemat per kilometer

Sekarang bandingkan dari sisi kantong pengguna. Tarif listrik nonsubsidi Rp1.444,70 per kWh, dan satu kWh menempuh 35 kilometer.

Biaya per kilometer Motor listrik = 1.444,7 ÷ 35 = Rp41,3 per km Motor bensin = 10.000 ÷ 50 = Rp200 per km

Motor listrik hanya menghabiskan Rp41,3 per kilometer, sementara motor bensin Rp200 per kilometer. Motor listrik sekitar lima kali lebih hemat.

Penghematan biaya bensin masyarakat mencapai Rp200,4 triliun

Kalikan penghematan itu ke seluruh konsumsi motor nasional. Total biaya bensin motor per tahun adalah 25,05 juta kiloliter dikali Rp10.000 per liter.

Penghematan biaya masyarakat H bensin = 25,05 juta kL × Rp10.000 = 250,5 T H listrik = 250,5 ÷ 5 = 50,1 T Δ = 250,5 − 50,1 = 200,4 T

Biaya yang semula Rp250,5 triliun untuk bensin menyusut menjadi Rp50,1 triliun bila memakai listrik. Masyarakat berpotensi menghemat Rp200,4 triliun setiap tahun.

Baca Juga Penyebab Pertamax Naik Padahal Minyak Dunia Lagi Turun?

Penghematan Rp200,4 triliun berpotensi menggerakkan ekonomi Rp387,57 triliun

Uang Rp200,4 triliun yang tidak jadi dibakar sebagai bensin akan berputar di ekonomi. Warga membelanjakannya ke makanan, transportasi, dan pakaian, lalu uang itu mengalir ke petani, SPBU, dan penjahit. Inilah yang disebut multiplier effect.

Besarnya efek pengganda dihitung dari kecenderungan konsumsi, pajak, dan impor masyarakat.

Rumus multiplier Y = 1 ÷ (1 − C(1 − t) + m) × (I + G + X) C = konsumsi 0,779 t = pajak 0,118 m = impor 0,209

Nilai multiplier k = 1 ÷ (1 − 0,779(1 − 0,118) + 0,209) k = 1,939

Dengan pengali 1,939, penghematan Rp200,4 triliun berpotensi menumbuhkan ekonomi nasional.

Dampak ke ekonomi 200,4 T × 1,939 = 387,57 T

Tambahan pertumbuhan setara 1,62 persen dari PDB

Bandingkan Rp387,57 triliun itu dengan PDB Indonesia 2025 yang Rp23.821,1 triliun.

Kontribusi ke PDB % = 387,57 ÷ 23.821,1 = 1,62%

Elektrifikasi motor berpotensi menambah pertumbuhan ekonomi setara 1,62 persen dari PDB, murni dari uang bensin yang dialihkan menjadi konsumsi produktif.

Baca Juga Pertamina Klaim 150 Juta Jam Tanpa Accident, Beneran Sejak Zaman Dinosaurus?

Apakah listrik kita cukup untuk 100 persen elektrifikasi

Semua hitungan tadi runtuh kalau listriknya tidak cukup. Jadi ini pertanyaan penentu.

Menurut ESDM, satu liter BBM setara 1,2 kWh. Total konsumsi bensin motor tinggal dikonversi.

Kebutuhan listrik elektrifikasi 25,05 juta kL × 1,2 kWh = 30,06 TWh

Elektrifikasi seluruh motor Indonesia hanya butuh tambahan 30,06 TWh listrik per tahun.

Surplus listrik nasional sudah lebih dari cukup

Sekarang lihat pasokannya. PLN mencatat penjualan listrik 317,69 TWh pada 2025, sementara ESDM menaksir produksi listrik nasional mencapai 354 TWh.

Surplus listrik nasional Δ = 354 − 317,69 = 36,31 TWh

Surplus listrik nasional 36,31 TWh sudah lebih besar daripada 30,06 TWh yang dibutuhkan untuk elektrifikasi seluruh motor. Artinya secara pasokan, Indonesia bisa menyalakan 100 persen motor listrik hari ini juga, tanpa membangun satu pun pembangkit baru.

Jika penjelasan dari artikel di atas masih kurang mengerti YUKK tonton videonya di sini

Similar Posts