CNG Diklaim 40 Persen Lebih Murah dari Gas LPG 3 Kg
Rencana konversi LPG ke CNG kembali menjadi sorotan setelah Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut gas alam bertekanan dalam tabung 3 kg bisa lebih murah 30 sampai 40 persen dibanding LPG 3 kg.
Pemerintah menargetkan uji coba tahap ketiga rampung sekitar Juli hingga Agustus 2026 sebelum diterapkan ke rumah tangga. Artinya kebijakan ini belum berjalan penuh.
Daripada berhenti pada klaim lebih murah, mari kita bedah angkanya. Seberapa berat beban subsidi LPG, dari mana penghematannya, dan apa saja tantangannya. Berikut hitungannya angka demi angka.
Subsidi LPG 3 Kg yang Membebani APBN
LPG 3 kg atau gas melon dijual jauh di bawah harga keekonomiannya. Selisihnya ditanggung negara sebagai subsidi.
Harga keekonomian satu tabung sekitar Rp62.094, sedangkan yang dibayar masyarakat sekitar Rp15.750. Selisihnya kita hitung.

Subsidi per tabung = Rp62.094 − Rp15.750 = Rp46.344
Jadi tiap tabung disubsidi sekitar Rp46.344, atau sekitar Rp15.448 per kilogram. Beban inilah yang mendorong pemerintah mencari alternatif.
LPG 80 Persen Impor dan Bebannya ke Ekonomi

Masalahnya tidak berhenti di subsidi. Sekitar 80 persen kebutuhan LPG nasional dipenuhi dari impor.
Menurut data yang dikutip Reuters, Indonesia mengimpor sekitar 6,9 juta ton LPG dari 8,7 juta ton yang terjual di pasar domestik. Dengan asumsi harga sekitar 580 dolar per ton, nilainya kita perkirakan.

Nilai impor = 6,9 juta ton × $580 ≈ $4 miliar
Angka itu setara sekitar Rp70 triliun. Dibandingkan ukuran ekonomi nasional, porsinya terlihat kecil namun tetap nyata.

Rasio terhadap PDB = Rp70 triliun ÷ Rp23.821 triliun ≈ 0,3%
Impor sebesar ini menekan komponen impor dalam perhitungan pendapatan nasional, sehingga menggerus kontribusi bersih perdagangan terhadap PDB.
Subsidi Salah Sasaran Sekitar Rp53 Triliun
Beban subsidi diperberat oleh penyalurannya yang kurang tepat. Kajian INDEF menemukan mayoritas penerima bukan kelompok sasaran.
Dari 59,4 juta rumah tangga pengguna LPG 3 kg, sekitar 36,3 juta atau 60,7 persen berasal dari kelompok menengah ke atas. Dengan subsidi 2026 diproyeksikan sekitar Rp87 triliun, porsi yang salah sasaran kita hitung.

Salah sasaran = 60,7% × Rp87 triliun ≈ Rp53 triliun
Sekitar Rp53 triliun subsidi berpotensi dinikmati mereka yang sebenarnya tidak membutuhkannya. Inilah salah satu pendorong utama pencarian pengganti LPG.
Apa Itu CNG dan Nilai Kalorinya
CNG atau compressed natural gas adalah gas alam yang dikompresi hingga bertekanan tinggi. Bahan bakunya gas bumi domestik, sehingga berpotensi mengurangi impor.
Pertanyaannya, apakah energinya sebanding dengan LPG. Kita bandingkan nilai kalor atau NCV keduanya, LPG sekitar 46,12 dan CNG sekitar 45,22 megajoule per kilogram.

Selisih NCV = (46,12 − 45,22) ÷ 46,12 ≈ 1,95%
Selisihnya hanya sekitar 1,95 persen, jadi secara praktis energi CNG hampir setara LPG. Keunggulannya ada pada bahan baku lokal dan biaya produksi yang lebih rendah.
Baca Juga
Penghematan Lewat Jaringan Gas Sekitar 30 Persen
Gambaran penghematan paling nyata datang dari jaringan gas rumah tangga atau jargas. BPH Migas menetapkan harga jargas lebih murah dari LPG.
Untuk golongan rumah tangga bersubsidi, harga jargas sekitar Rp4.250 per meter kubik, sedangkan harga pasar LPG 3 kg setara sekitar Rp6.065 per meter kubik. Penghematannya kita hitung.

Penghematan = 1 − (4.250 ÷ 6.065) ≈ 30%
Hasilnya sekitar 30 persen, sejalan dengan klaim pemerintah. Perlu dicatat, Dirjen Migas menyebut harga jual ke masyarakat rencananya disamakan dengan LPG, sehingga penghematan terbesar justru ada di sisi subsidi negara, bukan otomatis pada tagihan warga.
Tantangan CNG, Tekanan Tinggi dan Biaya Tabung
Peralihan ini tidak tanpa hambatan. Tantangan terbesar ada pada tabungnya.

CNG disimpan pada tekanan sekitar 200 sampai 250 bar, jauh di atas LPG yang sekitar 10 bar. Tekanan setinggi itu menuntut material, bobot, dan ukuran tabung yang lebih besar, sehingga biaya distribusinya ikut naik.
Tabung CNG berbahan komposit atau serat karbon harganya beberapa kali lipat tabung LPG, dan untuk uji coba pun masih diimpor. Faktor keselamatan inilah yang membuat pemerintah waspada dan menahan implementasi sampai uji coba tuntas.
Baca Juga Penyebab Pertamax Naik Padahal Minyak Dunia Lagi Turun?
Alternatif Kompor Listrik Induksi dan Biayanya
Selain CNG, kompor listrik induksi menjadi opsi lain. Keunggulannya ada pada efisiensi.
Efisiensi kompor induksi sekitar 80 persen, jauh di atas kompor gas yang sekitar 45 persen. Dengan nilai kalor LPG 46,12 megajoule per kilogram, kebutuhan listrik setara kita hitung. Angka 3,6 mengubah megajoule menjadi kilowatt hour.

kWh per kg = (46,12 × 45%) ÷ (80% × 3,6) ≈ 7,2 kWh
Jadi satu kilogram LPG setara sekitar 7,2 kWh listrik. Untuk satu tabung 3 kg berarti sekitar 21,6 kWh.
kWh per tabung = 7,2 × 3 = 21,6 kWh
Biaya listriknya tinggal dikalikan tarif tiap golongan. Sebagai contoh untuk golongan 450 VA.
Biaya 450 VA = Rp415 × 21,6 ≈ Rp9.000
Berikut perbandingan biaya listrik setara satu tabung untuk beberapa golongan.
| Golongan | Tarif per kWh | Biaya per tabung |
|---|---|---|
| 450 VA subsidi | Rp415 | Rp9.000 |
| 900 VA subsidi | Rp605 | Rp13.100 |
| 900 VA nonsubsidi | Rp1.352 | Rp29.200 |
| 1.300 hingga 2.200 VA | Rp1.444,70 | Rp31.200 |
Bandingkan dengan LPG subsidi yang sekitar Rp15.750 per tabung dan harga keekonomiannya sekitar Rp62.094.
Untuk golongan bersubsidi, memasak dengan listrik bisa lebih murah dari LPG, sementara golongan nonsubsidi membayar lebih mahal namun tetap jauh di bawah harga keekonomian LPG.
Peta Segmentasi Menuju Swasembada Gas

Karena tidak ada solusi tunggal, arah kebijakannya adalah membagi sasaran berdasarkan kondisi wilayah dan daya listrik.
Kota dan perumahan dekat jaringan gas diarahkan ke jargas. Industri, hotel, restoran, dan apartemen memakai CNG berkapasitas besar. Rumah dengan listrik di atas 2.200 VA cocok untuk kompor induksi.
Daerah terpencil, rumah berdaya kecil, dan masyarakat kurang mampu tetap membutuhkan opsi tabung bersubsidi. Muara dari semuanya sama, mengurangi impor dan menuju swasembada gas.
Konversi LPG ke CNG memang menjanjikan penghematan subsidi hingga puluhan triliun rupiah sekaligus penguatan energi domestik. Namun besarnya manfaat sangat bergantung pada kesiapan tabung, jaringan distribusi, dan skema harga yang belum final.
Jika penjelasan dari artikel di atas masih kurang mengerti YUKK tonton videonya di sini