Minyak Jelantah Bekas Gorengan Bernilai Rp46 Triliun Jadi Avtur?
Minyak jelantah yang selama ini bekas gorengan ternyata bisa naik kelas menjadi bahan bakar pesawat. Pertamina sudah membuktikannya lewat penerbangan perdana Pelita Air rute Jakarta menuju Bali pada 20 Agustus 2025 memakai avtur berbahan minyak jelantah.
Pertanyaannya, seberapa besar dampak ekonomi nasional jika seluruh minyak jelantah Indonesia diubah menjadi avtur. Dengan potensi jelantah sekitar 4 juta kiloliter per tahun?
Potensi minyak jelantah Indonesia dan hasil avturnya

Menurut lembaga riset Indonesia Palm Oil Strategic Studies, Indonesia berpotensi menghasilkan 3 hingga 4 juta kiloliter minyak jelantah setiap tahun. Angka ini dipakai sebagai titik awal dengan mengambil batas atasnya, yaitu 4 juta kiloliter.
Massa jelantah didapat dari massa jenisnya dikali volume. Dengan massa jenis sekitar 931 kilogram per meter kubik, total massanya sebagai berikut.

Massa minyak jelantah M jelantah = ρ × V jelantah = 931 × 4 × 10⁶ ≈ 3,7 juta ton
Untuk menghasilkan 1 ton avtur dibutuhkan 1,2 ton minyak jelantah menurut riset yang dirujuk IATA. Dari sini didapat efisiensi konversinya.

Efisiensi konversi η = 1 ÷ 1,2 = 0,833
Massa avtur yang bisa dihasilkan adalah efisiensi dikali massa jelantah.
Massa avtur M avtur = η × M jelantah = 0,833 × 3,7 = 3 juta ton
Terakhir, massa avtur diubah menjadi volume dengan membaginya memakai massa jenis avtur sebesar 776 kilogram per meter kubik.

Volume avtur V avtur = M avtur ÷ ρ avtur = 3000 × 10⁶ ÷ 776 ≈ 3,8 juta kiloliter
Jadi, seluruh minyak jelantah Indonesia berpotensi menjadi sekitar 3,8 juta kiloliter avtur per tahun.
Baca Juga Penyebab Pertamax Naik Padahal Minyak Dunia Lagi Turun?
Kebutuhan avtur nasional dan porsi yang bisa ditutup jelantah
Kebutuhan avtur nasional bisa diperkirakan dari konsumsi hariannya. Kementerian ESDM mencatat konsumsi avtur Indonesia sekitar 14.000 kiloliter per hari.
Dikali jumlah hari dalam setahun, kebutuhannya menjadi berikut.

Kebutuhan avtur setahun V = 14.000 × 365 ≈ 5,11 juta kiloliter
Dengan potensi pasokan 3,8 juta kiloliter dan kebutuhan 5,11 juta kiloliter, porsi yang bisa ditutup jelantah dihitung sebagai berikut.
Porsi kebutuhan tertutup (3,8 ÷ 5,11) × 100% = 79,3%
Artinya avtur dari minyak jelantah berpeluang menutup sebagian besar kebutuhan penerbangan dalam negeri.
Nilai ekonomi langsung dari penjualan avtur jelantah
Nilai ekonomi paling dasar dihitung dari harga avtur dikali volume yang dihasilkan. Berdasarkan data Pertamina, harga avtur di Bandara Soekarno Hatta pernah tercatat Rp12.265 per liter.

Nilai ekonomi avtur Nilai = harga × V avtur = 12.265 × 3,8 juta kl ≈ Rp46,6 triliun
Sekali putaran, avtur dari minyak jelantah sudah bernilai sekitar Rp46,6 triliun per tahun. Nilai itu belum menghitung efek berantainya ke perekonomian.
Efek pengganda Keynesian yang memperbesar dampak ke PDB
Uang dari penjualan avtur tidak berhenti di satu tangan. Pekerja, pengepul jelantah, dan pemasok ikut membelanjakannya lagi, sehingga muncul efek berganda yang dikenal sebagai multiplier Keynesian.
Titik awalnya adalah persamaan pendapatan nasional yang kemudian diselesaikan untuk mendapatkan angka penggandanya.

Pendapatan nasional Y = C + I + G + (X − M) Y = c(1 − t)Y + I + G + (X − mY) Y(1 − c(1 − t) + m) = I + G + X Y = [1 ÷ (1 − c(1 − t) + m)] × (I + G + X)
Angka pengganda ditentukan tiga perilaku ekonomi, yaitu kecenderungan konsumsi (c), pajak (t), dan impor (m). Nilainya diambil dari data resmi, yaitu konsumsi 0,779, pajak 0,118, dan impor 0,209.

Nilai pengganda k = 1 ÷ (1 − 0,779(1 − 0,118) + 0,209) ≈ 1,934
Dengan pengganda hampir 2 kali lipat, nilai Rp46,6 triliun tadi tumbuh menjadi jauh lebih besar.

Dampak setelah pengganda Rp46,6 triliun × 1,934 ≈ Rp90,12 triliun
Untuk melihat kontribusinya, angka ini dibandingkan dengan PDB riil Indonesia yang ditargetkan sekitar Rp13.639 triliun.

Kontribusi ke PDB (90,12 ÷ 13.639) × 100% ≈ 0,66%
Jadi, olahan minyak jelantah menjadi avtur berpeluang menyumbang sekitar 0,66 persen dari target PDB.
Baca Juga Pertamina Klaim 150 Juta Jam Tanpa Accident, Beneran Sejak Zaman Dinosaurus?
Dampak lingkungan setara luas lahan sawit
Dampak lingkungannya bisa dibayangkan lewat luas kebun sawit yang setara. Minyak jelantah pada dasarnya berasal dari minyak sawit, sehingga total 3,7 juta ton jelantah dapat dibandingkan dengan hasil panen sawit.
Produktivitas kebun sawit Indonesia sekitar 3,34 ton per hektare per tahun berdasarkan rerata data lima tahun terakhir. Luas lahan setaranya sebagai berikut.

Luas lahan sawit setara Lahan = 3,7 juta ÷ 3,34 ≈ 1,1 juta hektare
Angka 1,1 juta hektare itu menggambarkan betapa besar sumber daya yang selama ini terbuang bersama minyak jelantah. Mendaur ulangnya berarti menghemat tekanan pembukaan lahan sawit baru.
Program penukaran jelantah yang sudah berjalan

Semua hitungan itu bukan sekadar teori karena programnya sudah mulai jalan. Pertamina membuka sekitar 35 titik pengumpulan minyak jelantah lewat layanan UCollect, tempat warga menukar jelantah menjadi saldo rupiah.
Puncaknya, penerbangan komersial perdana memakai avtur berbahan jelantah sukses digelar pada Agustus 2025 dengan pesawat Pelita Air. Bahan bakarnya diproduksi di Kilang Cilacap memakai Katalis Merah Putih buatan ITB dan mampu memangkas emisi karbon sampai 84 persen.
Meski begitu, produksinya masih sangat kecil. Baru sekitar 32 kiloliter avtur jelantah yang diproduksi dibanding potensi 4 juta kiloliter per tahun, sehingga ruang untuk memperluas pengolahan minyak jelantah masih sangat lebar.
Jika penjelasan dari artikel di atas masih kurang mengerti YUKK tonton videonya di sini