Prabowo Ingin Tanam Sawit di Papua demi BBM
Presiden Prabowo Subianto meminta lahan sawit dibuka di Papua agar bisa menghasilkan BBM, sebagai bagian dari target swasembada energi nasional.
Gagasan itu memicu perdebatan karena Papua masih menyimpan hutan alam yang sangat luas, sementara pembukaan kebun sawit berskala besar dikaitkan dengan deforestasi dan bencana.
Daripada berhenti pada pro dan kontra, mari kita uji dengan angka. Seberapa besar karbon yang tersimpan, dan apakah kita benar butuh lahan sawit baru. Berikut hitungannya angka demi angka.
Satu Hektare Hutan Papua Menyimpan 3122 Ton CO2

Papua menyimpan salah satu hutan alam terbesar di dunia, dengan tutupan hutan sekitar 86 persen dari wilayahnya. Hutan ini menampung karbon dalam jumlah besar.
Berdasarkan kajian karbon di Papua, stok karbon hutan dataran rendah alami mencapai sekitar 851,5 ton karbon per hektare. Karbon itu kita ubah menjadi setara CO2 lewat perbandingan massa molekul.
CO2 = C × 44 ÷ 12
Angka 44 dan 12 berasal dari massa molekul CO2 dan karbon. Dengan memasukkan nilainya, hasilnya seperti berikut.
CO2 ≈ 851,5 × 44 ÷ 12 = 3122,16 tCO2 per ha
Artinya satu hektare hutan Papua menyimpan sekitar 3122 ton CO2 dalam siklus karbonnya. Angka ini menjadi titik awal menilai dampak konversi lahan.
Baca Juga Kunjungan Luar Negeri Prabowo, Berapa sih Biayanya?
Kenapa Bukan Sawit yang Juga Menyerap CO2

Muncul pertanyaan wajar. Bukankah sawit juga tanaman yang menyerap CO2, jadi kenapa tidak menggantinya saja.
Persoalannya ada pada besaran simpanan. Kebun sawit menyimpan karbon jauh lebih sedikit dibanding hutan alam.
Hutan alam menyimpan sekitar 3122 ton CO2 per hektare, sedangkan sawit hanya sekitar 300 ton CO2 per hektare. Selisihnya sekitar sepuluh kali lipat.
Jadi ketika hutan diubah menjadi kebun sawit, sebagian besar karbon yang tersimpan justru terlepas ke atmosfer.
Baca Juga Pidato Dedi Mulyadi soal Hutan Gundul, 858 Ribu Hektare Hilang Tiap Tahun
Dari Pembakaran Karbon ke Laut yang Menghangat
Pelepasan karbon biasanya terjadi lewat pembakaran atau pembusukan. Reaksinya menghasilkan CO2 dan energi.

C(organik) + O2 → CO2 + Energi
CO2 yang menumpuk di atmosfer memperkuat efek rumah kaca, sehingga suhu bumi meningkat. Sebagian besar panas tambahan itu tidak tinggal di udara.
Sekitar 90 persen panas diserap laut, sisanya terbagi ke daratan sekitar 6 persen, es 3 persen, dan atmosfer 1 persen. Banyaknya panas yang diserap laut bisa didekati dengan rumus kalor.
Q = m × c × ΔT
Karena massa air laut sangat besar, kenaikan suhunya menyimpan energi panas dalam jumlah luar biasa banyak.
Laut Hangat, Hujan Ekstrem, dan Banjir
Laut yang menghangat membuat penguapan meningkat. Uap air di atmosfer pun bertambah banyak.
Lebih banyak uap air berarti potensi hujan yang lebih deras. Ini sejalan dengan curah hujan ekstrem yang terjadi belakangan.
Di pesisir barat Sumatra pada 23 sampai 24 November, curah hujan harian mencapai 160 sampai 226 mm, jauh di atas normal bulanannya yang sekitar 150 mm. Di Aceh bahkan mencapai 300 mm per hari, sementara Tapanuli Tengah dan Sibolga menerima 800 mm dalam empat hari.
Ketika hutan hilang, tidak ada lagi yang menyerap dan menahan air, sehingga air langsung melimpas menjadi banjir. Karena itu PBB menegaskan istilah bencana alam kurang tepat, sebab banyak bencana kini dipicu ulah manusia.
Kebutuhan Sawit Domestik Hanya Sekitar 7 Juta Hektare
Argumen lain menyangkut kebutuhan lahan. Pertanyaannya, apakah Indonesia benar kekurangan lahan sawit.
Menurut data GAPKI 2023, konsumsi domestik sawit sekitar 22,23 juta ton, dengan alokasi utama untuk pangan 10,3 juta ton, biodiesel 10,65 juta ton, dan oleokimia 2,27 juta ton. Dengan hasil sekitar 3,14 ton per hektare, kebutuhan lahannya kita hitung.
Luas kebun = 22,23 jt ton ÷ 3,14 ton per ha ≈ 7 jt ha
Untuk memenuhi seluruh kebutuhan domestik, hanya diperlukan sekitar 7 juta hektare kebun sawit.
Lahan Sawit Sekarang Sudah 2,3 Kali Kebutuhan
Kenyataannya, luas kebun sawit yang ada jauh lebih besar dari angka itu. Luas perkebunan sawit nasional saat ini sekitar 16 juta hektare.
Dibandingkan kebutuhan domestik 7 juta hektare, luas yang ada sekitar 2,3 kali lipatnya. Selisihnya mencapai sekitar 9 juta hektare.
Artinya lahan sawit yang ada sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk kebutuhan dalam negeri. Membuka lahan baru di Papua demi BBM pun menjadi pertanyaan besar dari sisi kebutuhan.
Jika Penjelasan artikel di atas masih kurang mengerti YUKK tonton videonya di sini