Dedi Mulyadi Atasi Banjir di Bandung Ditaksir Telan Triliunan Rupiah
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyatakan bahwa memperbanyak danau merupakan solusi utama banjir Kabupaten Bandung. Pernyataan itu disampaikan KDM dalam Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Bandung pada peringatan Hari Jadi ke 385 Kabupaten Bandung di Soreang, Senin 20 April 2026.
Rencana Dedi Mulyadi atasi banjir di Bandung ini muncul setelah banjir berulang merendam kawasan Bandung Selatan seperti Dayeuhkolot dan Baleendah, dan setelah KDM berkali kali menunjuk alih fungsi lahan serta kesalahan tata ruang sebagai penyebab banjir Kabupaten Bandung.
Pertanyaan Matematis di Balik Rencana Perbanyak Danau di Kabupaten Bandung
Rencana Pemprov Jabar membangun danau retensi di lahan yang sudah dibebaskan Pemerintah Kabupaten Bandung terdengar masuk akal secara logika. Air hujan yang tidak lagi terserap tanah ditampung di kolam buatan sebelum sempat menggenangi permukiman. Namun logika saja tidak cukup untuk menentukan skala pembangunan.
Secara matematika, apakah memperbanyak danau merupakan solusi banjir di Kabupaten Bandung, dan berapa jumlah danau yang harus dibangun agar beban air benar benar tertutup.
Rumus Debit Limpasan yang Dipakai untuk Mengukur Beban Air
Untuk menjawabnya, dipakai metode rasional yang lazim digunakan dalam analisis hidrologi. Metode ini menghubungkan tiga hal sekaligus, yaitu seberapa deras hujan turun, seberapa luas wilayah yang menerima hujan, dan seberapa besar bagian hujan yang tidak terserap tanah.

Rumus Debit Limpasan Q = C × i × A
Q adalah debit atau volume air limpasan. C adalah koefisien limpasan atau koefisien runoff. Huruf i mewakili intensitas hujan. Sedangkan A adalah luas Daerah Aliran Sungai atau luas wilayah tangkapan hujan.
Hutan Lebat dan Lahan Terbuka Punya Daya Serap yang Berbeda Jauh
Variabel yang paling menentukan dalam rumus tersebut adalah C. Nilainya berkisar antara nol sampai satu. Semakin mendekati satu, semakin besar bagian hujan yang langsung menjadi aliran permukaan dan berpotensi memicu banjir.
Hutan lebat memiliki koefisien limpasan sekitar 0,05 yang berarti kawasan itu masih menyerap sekitar 95 persen air hujan. Sebaliknya lahan terbuka memiliki koefisien sekitar 0,9 yang berarti kawasan itu hanya menyerap sekitar 10 persen air hujan. Selisih inilah yang membuat alih fungsi lahan berdampak langsung pada banjir Kabupaten Bandung.
Berikut nilai rujukan koefisien limpasan menurut jenis tutupan lahan.
| Jenis Tutupan Lahan | Koefisien Limpasan |
|---|---|
| Hutan lebat | 0,05 sampai 0,20 |
| Padang rumput terbuka | 0,10 sampai 0,30 |
| Lahan pertanian campuran | 0,25 sampai 0,45 |
| Semak belukar | 0,20 sampai 0,40 |
| Kawasan urban ringan | 0,40 sampai 0,65 |
| Kawasan industri dan komersial | 0,70 sampai 0,90 |
| Permukaan aspal dan beton | 0,90 sampai 0,98 |
Analogi Spons untuk Memahami Tiga Variabel Penentu Banjir

Cara paling mudah memahami rumus tersebut adalah membayangkan sebuah meja yang diguyur air. Luas permukaan meja mewakili A atau luas Daerah Aliran Sungai. Ember yang menampung air jatuh di bawah meja mewakili Q atau debit limpasan.
Adapun C diwakili oleh spons yang diletakkan di atas meja. Spons hutan bernilai 0,05 dan menahan hampir seluruh air.
Spons lahan pertanian bernilai 0,45. Sedangkan spons lahan terbangun bernilai 0,9 sehingga hampir seluruh air langsung tumpah ke ember. Mengganti spons hutan dengan spons beton berarti memperbesar isi ember tanpa mengubah derasnya hujan.
Citra Satelit Merekam Perubahan Wajah Kabupaten Bandung

Perubahan tutupan lahan di cekungan Bandung bukan dugaan. Citra satelit sejak 1984 sampai era terkini memperlihatkan bagaimana hamparan hijau di sekitar Sungai Citarum menyusut dan berganti warna terang yang menandakan permukiman, pabrik, dan lahan terbuka.
Rekaman visual ini sejalan dengan pernyataan KDM bahwa sawah berubah menjadi pabrik. Namun untuk masuk ke rumus, gambaran visual harus diubah menjadi angka luasan.
Data Tutupan Lahan Kabupaten Bandung Tahun 2024
Data tutupan lahan Kabupaten Bandung pada 2024 memperlihatkan komposisi wilayah yang sudah didominasi lahan produktif dan lahan terbangun.
| Kelas Tutupan Lahan 2024 | Luas | Porsi |
|---|---|---|
| Pertanian | 64.692 hektare | 37,2 persen |
| Hutan | 41.772 hektare | 24 persen |
| Area Tanpa Vegetasi | 34.732 hektare | 20 persen |
| Formasi Alami Bukan Hutan | 31.977 hektare | 18,4 persen |
| Badan Air | 910 hektare | 0,5 persen |
Rumus Koefisien Limpasan Gabungan Satu Wilayah
Karena satu kabupaten terdiri dari banyak jenis tutupan lahan sekaligus, nilai C tidak bisa diambil dari satu kelas saja. Nilai C harus dirata ratakan berdasarkan bobot luas setiap kelas.

Rumus Koefisien Limpasan Total C total = Σ (Cᵢ × Aᵢ) ÷ Σ Aᵢ
Cᵢ adalah koefisien limpasan setiap kelas tutupan lahan. Aᵢ adalah luas kelas tutupan lahan tersebut. Hasilnya berupa satu angka tunggal yang mewakili karakter serapan air seluruh Kabupaten Bandung.
Perbandingan Tutupan Lahan Kabupaten Bandung 1990 dan 2024
Dengan rumus tersebut, komposisi lahan pada 1990 dibandingkan dengan komposisi lahan pada 2024. Perbandingan ini yang menjelaskan penyebab banjir Kabupaten Bandung dari sisi tata ruang.

| Kelas Tutupan Lahan | 1990 | 2024 | Arah |
|---|---|---|---|
| Pertanian | 51.959 hektare atau 29,8 persen | 64.692 hektare atau 37,2 persen | Naik |
| Hutan | 48.060 hektare atau 27,6 persen | 41.772 hektare atau 24 persen | Turun |
| Formasi Alami Bukan Hutan | 39.023 hektare atau 22,4 persen | 31.977 hektare atau 18,4 persen | Turun |
| Area Tanpa Vegetasi | 33.769 hektare atau 19,4 persen | 34.732 hektare atau 20 persen | Naik |
| Badan Air | 1.271 hektare atau 0,7 persen | 910 hektare atau 0,5 persen | Turun |
Hutan menyusut, badan air ikut menyusut, sementara pertanian dan area tanpa vegetasi bertambah. Inilah gambaran kuantitatif dari alih fungsi lahan yang berulang kali disebut Dedi Mulyadi banjir Bandung sebagai akar persoalan.
Hasil Hitungan Koefisien Limpasan Naik 3,35 Persen
Setiap porsi luas dikalikan nilai koefisien kelasnya, lalu seluruh hasilnya dijumlahkan.

Koefisien Limpasan Tahun 1990 C = 29,8% × 0,35 + 27,6% × 0,125 + 22,4% × 0,30 + 19,4% × 0,525 + 0,7% × 1 = 0,31485
Koefisien Limpasan Tahun 2024 C = 37,2% × 0,35 + 24% × 0,125 + 20% × 0,525 + 18,4% × 0,3 + 0,5% × 1 = 0,32549

Kenaikan Koefisien Limpasan ΔC = (0,32549 − 0,31485) ÷ 0,31485 = 3,35%
Angkanya terlihat kecil. Namun karena dikalikan luas satu kabupaten penuh, kenaikan 3,35 persen ini berubah menjadi volume air yang sangat besar.
Luas Wilayah dan Curah Hujan Kabupaten Bandung
Dua variabel sisa dalam rumus diambil dari data resmi. Luas wilayah Kabupaten Bandung adalah 1.762,40 kilometer persegi atau setara 176.238,67 hektare, mencakup 31 kecamatan dengan ibu kota di Soreang.
Sedangkan intensitas hujan diambil dari data curah hujan bulanan Badan Pusat Statistik.
| Bulan | Curah Hujan | Hari Hujan |
|---|---|---|
| Januari | 91,00 milimeter | 19,00 |
| Februari | 250,00 milimeter | 21,00 |
| Maret | 286,00 milimeter | 23,00 |
| April | 229,00 milimeter | 20,00 |
| Mei | 139,00 milimeter | 12,00 |
| Juni | 173,00 milimeter | 13,00 |
| Juli | 47,00 milimeter | 9,00 |
| Agustus | 8,00 milimeter | 1,00 |
| September | 91,00 milimeter | 8,00 |
| Oktober | 229,00 milimeter | 18,00 |
| November | 426,00 milimeter | 20,00 |
| Desember | 196,00 milimeter | 16,00 |
Dari data tersebut diperoleh intensitas hujan sekitar 180,9 milimeter, dan luas Daerah Aliran Sungai sebesar 1.762,4 kilometer persegi.
Volume Limpasan Air Tahun 1990 dan 2024
Ketiga variabel kini lengkap sehingga rumus dapat dijalankan untuk dua titik waktu.

Volume Limpasan Tahun 1990 Q = C × i × A = 0,31485 × 0,18 × 1762,4 km² = 99.880.495,2 m³
Volume Limpasan Tahun 2024 Q = C × i × A = 0,3254 × 0,18 × 1762,4 km² = 103.227.292,8 m³
Beban Tambahan Air Mencapai 3,35 Juta Meter Kubik
Selisih kedua angka itulah tambahan air yang harus ditanggung Kabupaten Bandung akibat perubahan tata ruang selama tiga dekade.

Selisih Volume Limpasan Δ = 3.398.797,6 m³ ≈ 3,35 juta m³
Artinya, akibat perubahan tata ruang dari 1990 sampai 2024, wilayah Kabupaten Bandung menanggung beban tambahan air sekitar 3,35 juta meter kubik. Beban inilah yang harus ditampung jika solusinya adalah membangun danau.
Baca Juga Pidato Dedi Mulyadi soal Hutan Gundul, 858 Ribu Hektare Hilang Tiap Tahun
Kolam Retensi Cieunteung Menjadi Satuan Pembanding
Agar hasilnya bisa dibayangkan, beban air tersebut dibandingkan dengan infrastruktur pengendali banjir yang sudah berdiri di Baleendah. Kolam Retensi Cieunteung memiliki volume tampung sekitar 235.000 meter kubik.

Jumlah Danau yang Dibutuhkan Jumlah danau = 3,35 juta m³ ÷ 235.000 m³
Kabupaten Bandung Butuh 14 Danau dan Biaya 2,85 Triliun Rupiah
Hasil pembagian tersebut memberi angka yang cukup mengejutkan.
Kabupaten Bandung membutuhkan sekitar 14 danau seluas Kolam Retensi Cieunteung hanya untuk menutup tambahan beban air, belum termasuk beban air yang sudah ada sejak 1990.
Pembangunan Kolam Retensi Cieunteung sendiri diresmikan pada Maret 2023 dengan anggaran sekitar Rp204 miliar untuk luas genangan 4,75 hektare.

Total Biaya Opsi Danau B total = Rp204 miliar × 14 = Rp2,85 triliun
Opsi Kedua Mengembalikan Lahan Pertanian Menjadi Hutan
Danau bukan satu satunya jalan. Karena akar masalahnya adalah naiknya koefisien limpasan, beban air juga bisa ditekan dengan menurunkan koefisien itu kembali, yaitu dengan mengembalikan lahan pertanian menjadi hutan.
Selisih koefisien antara lahan pertanian dan hutan dihitung lebih dulu.

Selisih Koefisien Limpasan ΔC = C pertanian − C hutan = 0,35 − 0,125 = 0,225
Selisih tersebut kemudian dikalikan intensitas hujan dan luas satu hektare untuk mengetahui berapa volume air yang bisa dicegah setiap hektare hutan.
Volume Air yang Dicegah per Hektare Q cegah = ΔC × i × 10.000 m² = 0,225 × 0,18 × 10.000 m² = 405 m³
Baca Juga Gus Ulil Bantah Tambang Penyebab Banjir Sumatra? Ini Faktanya
Reboisasi 8.266 Hektare Cukup dengan Biaya 661,3 Miliar Rupiah
Dengan membagi beban air terhadap kemampuan serap setiap hektare hutan, diperoleh luas hutan yang perlu dipulihkan.

Luas Hutan yang Dibutuhkan Luas hutan = 3,35 juta m³ ÷ 405 m³ = 8.266 hektare
Biaya menanam satu hektare hutan di Indonesia sangat beragam, umumnya berkisar dari puluhan juta hingga lebih dari Rp80 juta per hektare untuk investasi awal, tergantung jenis tanaman, lokasi, dan intensitas pemeliharaan.
Total Biaya Opsi Hutan B total = Rp80 juta × 8.266 hektare = Rp661,3 miliar
Tabel Perbandingan Solusi Danau dan Solusi Hutan
Kedua opsi kini bisa disandingkan secara langsung.
| Aspek | Danau | Hutan |
|---|---|---|
| Banyaknya | 14 kolam setara Cieunteung | 8.266 hektare |
| Biaya | Rp2,85 triliun | Rp661,3 miliar |
| Durasi | Cepat sekitar 2 sampai 3 tahun | Lama sekitar 5 sampai 10 tahun |
Opsi hutan sekitar empat kali lebih murah, tetapi menuntut kesabaran jauh lebih panjang. Opsi danau memberi hasil cepat, namun dengan harga lebih dari empat kali lipat. Perlu dicatat bahwa angka Rp80 juta per hektare merupakan batas atas, sehingga selisih biaya sesungguhnya bisa jauh lebih lebar lagi.
Kombinasi Danau dan Hutan Sebagai Jalan Tengah
Kedua solusi tidak harus dipilih salah satu. Danau bisa dibangun lebih dulu di titik rawan seperti Dayeuhkolot dan Baleendah untuk meredam banjir jangka pendek, sementara penanaman kembali hutan di hulu Sungai Citarum berjalan sebagai penyelesaian jangka panjang.
Persentase optimal antara luas hutan dan jumlah danau bahkan bisa dihitung tersendiri, menyesuaikan anggaran yang tersedia dan target waktu penurunan risiko banjir Kabupaten Bandung.
Jika penjelasan dari artikel di atas masih kurang mengerti YUKK tonton video lengkapnya di sini