Menteri Bappenas sebut bahwa MBG lebih mendesak daripada lapangan kerja

Pernyataan bahwa MBG lebih mendesak daripada lapangan pekerjaan memantik perdebatan luas setelah disampaikan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional sekaligus Kepala Bappenas Rachmat Pambudy dalam Prasasti Economic Forum 2026 di Jakarta pada 29 Januari 2026.

Ia menegaskan keduanya sama sama penting, hanya saja pemenuhan gizi dinilai tidak bisa ditunda karena sebagian masyarakat di pelosok masih kelaparan.

Program Makan Bergizi Gratis sendiri dianggarkan 335 triliun pada 2026 untuk menyasar 82,9 juta penerima.

Yuk kita hitung seberapa besar sebenarnya kedua masalah itu, dan berapa biayanya bila MBG difokuskan pada kelompok yang paling membutuhkan.

Pernyataan Menteri Bappenas yang Jadi Sorotan

Rachmat Pambudy menyatakan bahwa MBG dan penciptaan lapangan kerja sama sama penting, tetapi MBG lebih mendesak.

Ia memakai analogi tentang memberi kail dan memberi ikan, bahwa memberi kail saja bisa terlambat bila orangnya sudah kelaparan lebih dulu.

Ia juga menyinggung anak anak di jenjang menengah yang masih kesulitan membaca dan menulis sebagai dampak persoalan gizi.

Perlu dicatat, program MBG juga menyerap tenaga kerja, dengan ratusan ribu pekerja di puluhan ribu satuan pelayanan pemenuhan gizi di seluruh Indonesia. Artinya kedua hal ini tidak sepenuhnya terpisah. Meski begitu, perbandingan tersebut menarik untuk diuji dengan angka.

Potret Lapangan Pekerjaan Indonesia

Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional yang dirilis Badan Pusat Statistik, jumlah angkatan kerja pada November 2025 mencapai 155,27 juta orang dengan tingkat partisipasi angkatan kerja 70,95 persen.

Penduduk yang bekerja tercatat 147,91 juta orang, sementara rata rata upah buruh berada di angka 3,33 juta rupiah. Selisih keduanya adalah jumlah penganggur.

pengangguran = 155,27 − 147,91 = 7,36 juta orang (4,74%)

Masalah yang Ternyata Lebih Besar dari Angka Pengangguran

Angka pengangguran hanya sebagian dari cerita. Dari seluruh penduduk bekerja, hanya 100,50 juta orang atau 67,94 persen yang tergolong pekerja penuh dengan jam kerja minimal 35 jam per minggu. Sisanya masuk kategori pekerja tidak penuh.

pekerja tidak penuh = 32,06% = 47,42 juta orang

Kelompok ini terdiri atas pekerja paruh waktu dan setengah penganggur. Jadi persoalannya bukan hanya 7,36 juta orang yang menganggur, melainkan puluhan juta orang yang jam kerjanya belum penuh dan penghasilannya belum memadai.

Baca Juga Korupsi MBG 1M Diduga Bocor Setara 46.770 Orang Bisa Makan Sehari

Angka Stunting Anak Indonesia

Di sisi lain ada persoalan gizi. Menurut Survei Status Gizi Indonesia 2024 yang dirilis Kementerian Kesehatan, prevalensi stunting nasional turun menjadi 19,8 persen dari 21,5 persen pada tahun sebelumnya, bahkan melampaui proyeksi Bappenas yang memperkirakan 20,1 persen. Meski membaik, jumlah absolutnya tetap besar.

anak stunting = 19,8% = 4,98 juta anak

Dua Masalah yang Saling Mengunci

Kedua persoalan ini sebenarnya saling terkait. Pengangguran dan pekerjaan yang tidak penuh membuat keluarga kehilangan pendapatan hari ini, sehingga asupan gizi anak ikut terganggu.

Sebaliknya, gizi buruk menghambat perkembangan otak anak, menurunkan prestasi belajar, dan kelak membuat mereka hanya mampu mengakses pekerjaan berupah rendah.

Inilah yang disebut jebakan kemiskinan antargenerasi. Pengangguran menimbulkan kerugian pendapatan hari ini, sedangkan gizi buruk menimbulkan kerugian produktivitas di masa depan. Karena itu muncul gagasan agar MBG diarahkan secara lebih tepat sasaran.

Menghitung Biaya MBG untuk Setiap Penerima

Untuk menguji gagasan itu, kita hitung dulu biaya program per penerima. Dengan anggaran 335 triliun untuk 82,9 juta penerima, biayanya sebagai berikut.

biaya per anak = 335 T ÷ 82,9 jt = 4,09 jt per tahun

Sebagai catatan, pagu tersebut kemudian dievaluasi pemerintah dan dipangkas pada pertengahan 2026, sehingga hitungan di sini mengacu pada anggaran awal.

Bila program diarahkan hanya kepada anak yang benar benar mengalami stunting, biayanya menjadi jauh lebih kecil.

biaya makan = anak stunting × biaya per anak = 4.982.340 × 4.091.013 = 18,1 T

Baca Juga Purbaya Pangkas Anggaran MBG Saat Harga Minyak $110, Ini Hitungan Jalan Tengahnya

Menambahkan Ibu Hamil dari Keluarga Rentan

Pencegahan stunting sebenarnya dimulai sejak masa kehamilan. Dengan jumlah ibu hamil sekitar 4,8 juta orang dan proporsi pekerja tidak penuh sebagai pendekatan kelompok rentan, jumlahnya bisa diperkirakan.

ibu hamil rentan = 4,8 jt × 32,06% = 1,53 jt ibu

biaya makan = 1,53 jt × 4,09 jt = 6,2 T

Potensi Penghematan Anggaran

Bila keduanya digabungkan, total biaya program yang ditargetkan menjadi sebagai berikut.

total biaya = 18,1 T + 6,2 T = 24,3 T

335 T → 24,3 T, menghemat Δ = 292,6 T

Artinya ada potensi penghematan yang sangat besar bila program difokuskan pada kelompok paling membutuhkan, terutama di provinsi dengan prevalensi stunting tertinggi.

Penghematan Itu Setara Berapa Lapangan Kerja

Pertanyaan berikutnya, sisa anggaran itu bisa dipakai untuk apa. Menurut data pemantauan Kementerian Pekerjaan Umum, program padat karya dengan penyerapan anggaran 1,611 triliun mampu menyerap 138.314 pekerja.

1,611 T → 138.314 orang

292,6 T → 138.314 × 181,6 = 25 juta orang

Dengan pola yang sama, penghematan tadi berpotensi menciptakan puluhan juta kesempatan kerja. Di sinilah gagasan MBG tepat sasaran menjadi menarik, karena gizi anak tetap terjaga sementara lapangan kerja ikut terbuka. Meski demikian, menargetkan bantuan juga punya tantangan tersendiri, mulai dari risiko salah sasaran hingga biaya pendataan, sehingga pilihannya tidak sesederhana angka di atas kertas.

Jika penjelasan dari artikel di atas masih kurang mengerti YUKK tonton videonya di sini

Similar Posts