Persib VS Dewa United Bola Sudah 22 Cm di Luar Garis!
Laga Dewa United vs Persib pada 20 April 2026 berakhir imbang dan menyisakan kontroversi panas soal gol pertama tuan rumah. Bobotoh yakin bola sudah keluar garis sebelum berujung gol, sedangkan wasit menyatakan bola masih di dalam lapangan.
Perdebatan VAR Persib Dewa United ini menarik dibedah bukan dengan emosi, melainkan dengan matematika. Pertanyaannya sederhana, apakah bola sungguh sudah keluar atau belum.
Berikut hitungan bola out atau tidak di laga Persib vs Dewa United satu per satu, mulai dari aturan resmi, geometri bola, posisi kritis, sampai alasan tampilan layar TV bisa menipu.
Kontroversi VAR Persib Dewa United dan aturan bola keluar
Momen krusialnya terjadi saat bola dikejar pemain Dewa United di dekat garis samping. Bobotoh menilai bola sudah melewati garis, tetapi permainan tetap dilanjut sampai berbuah gol.
Menurut aturan resmi IFAB pada Laws of the Game, tepatnya Law 9, bola baru dinyatakan keluar apabila sudah sepenuhnya melewati garis. Kata kuncinya adalah sepenuhnya, bukan sekadar menyentuh atau sebagian melewati garis.
Karena itu, menentukan bola out atau tidak tidak bisa hanya dari kesan mata. Perlu ukuran yang jelas, dan di sinilah matematika masuk.
Baca Juga Persib Juara Hattrick, Berapa Perputaran Ekonominya?
Ukuran bola dan jari jarinya menurut aturan
Langkah pertama adalah mengetahui ukuran bola. Menurut Law 2, keliling bola resmi berada di kisaran 68 sampai 70 cm.

Keliling lingkaran punya rumus baku terhadap jari jarinya.
Keliling bola K = 2πr
Dengan mengambil keliling 69 cm sebagai nilai tengah, jari jari bola bisa dihitung.
Jari jari bola r = K ÷ 2π = 69 ÷ 2π ≈ 10,98 cm
Jadi jari jari bola sekitar 10,98 cm, yang berarti diameternya sekitar 22 cm.
Posisi kritis bola sebelum dinyatakan keluar
Garis lapangan sendiri punya lebar, dan menurut Law 1 lebarnya sekitar 12 cm. Tepi dalam garis dianggap titik nol, sedangkan tepi luar berada di posisi 12 cm.
Bola dinyatakan keluar hanya jika seluruh proyeksinya melewati tepi luar garis. Syaratnya, posisi pusat bola dikurangi jari jari harus lebih dari lebar garis.

Syarat bola keluar x(c) − r > W
Dari sini didapat posisi kritis pusat bola, yaitu batas minimal agar bola dianggap keluar sepenuhnya.
Posisi kritis pusat bola x(c) kritis = W + r = 12 + 11 = 23 cm
Artinya pusat bola harus melewati 23 cm dari tepi dalam agar sah dinyatakan keluar. Dengan kata lain, bola boleh berada sekitar 22 cm di luar garis sebelum sepenuhnya dianggap keluar.
Kenapa tampilan layar TV bisa menipu lewat parallax
Masalahnya, kamera TV tidak selalu tegak lurus di atas garis. Saat kamera menyorot dari samping dengan sudut tertentu, muncul kesalahan parallax, yaitu pergeseran posisi tampak dari posisi sebenarnya.
Besar pergeseran ini bergantung pada tinggi kamera dan jarak horizontalnya ke bola.

Kesalahan parallax Δx = r ÷ tan θ = r × D ÷ H
Di sini D adalah jarak horizontal kamera ke bola dan H adalah tinggi kamera, sedangkan θ adalah sudut kamera. Makin rendah sudutnya, makin besar pergeseran yang terjadi.
Pada kasus Persib, bola tampak sekitar 0,9 cm di dalam tepi luar garis dengan estimasi sudut kamera sekitar 22,7 derajat. Dalam rentang itu, hasilnya bisa jatuh ke dalam permainan maupun keluar sebagian, bergantung pada sudut dan tinggi bola.
Kesimpulan mengapa VAR dan sensor bola dibutuhkan
Karena hasilnya sangat bergantung pada sudut kamera dan tinggi bola, keputusan bola out atau tidak tidak bisa disimpulkan hanya dari tampilan layar TV. Satu tayangan bisa terlihat keluar, padahal aslinya masih di dalam.
Di sinilah teknologi seperti VAR dan goal line technology berperan. Sensor pada bola dan pada garis dapat memberi sinyal langsung yang jauh lebih akurat daripada mata telanjang atau kamera bersudut.
Jadi perdebatan VAR Persib Dewa United sebenarnya menegaskan satu hal penting. Sepak bola modern butuh alat ukur yang objektif agar keputusan wasit tidak lagi menjadi bahan perdebatan tanpa akhir.
Jika penjelasan di atas masih kurang mengerti YUKK tonton penjelasan lengkap nya di sini