Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Kejar Jalan Mulus 2026 Bernilai Rp25 Triliun
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memasang target besar, yaitu jalan Jabar mulus pada 2026 dengan minimal 90 persen jalan provinsi dalam kondisi baik. Program ini menyedot anggaran triliunan rupiah, tetapi seberapa besar dampaknya ke ekonomi dan lingkungan.
Ternyata perbaikan jalan bukan sekadar soal nyaman berkendara. Efeknya merembet ke pertumbuhan ekonomi lewat efek berantai antar sektor, penghematan biaya kendaraan, sampai pengurangan emisi karbon.
Rincian anggaran program jalan Jabar mulus
Data Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang atau DBMPR Jawa Barat menunjukkan belanja program prioritas jalan terbagi dalam tiga kelompok besar.
Kelompok pertama pekerjaan fisik, mencakup rekonstruksi jalan, penggantian jembatan, rehabilitasi jalan, pelebaran jalan, sampai jembatan gantung Saguling, dengan total sekitar Rp1,56 triliun.
Kelompok kedua jasa non fisik seperti konsultan perencana dan pengawasan senilai sekitar Rp85,33 miliar. Kelompok ketiga perdagangan alat berupa pengadaan alat berat senilai sekitar Rp60,91 miliar.

Total belanja program Rp1,56 T + Rp85,33 M + Rp60,91 M ≈ Rp1,708 T
Total suntikan belanja sekitar Rp1,708 triliun inilah yang menjadi titik awal hitungan dampak ekonominya.
Baca Juga Pidato Dedi Mulyadi soal Hutan Gundul, 858 Ribu Hektare Hilang Tiap Tahun
Model Input Output menangkap efek berantai ke ekonomi
Ketika pemerintah belanja untuk konstruksi jalan, uangnya tidak berhenti di sektor konstruksi saja. Sektor transportasi, industri semen, dan perdagangan ikut terdorong naik.
Efek berantai antar sektor ini ditangkap secara matematis lewat model Input Output. Langkah pertama menyusun output tiap sektor dari matriks transaksi antar sektor.

Output tiap sektor Xⱼ = Σ Zᵢⱼ + Fⱼ
Dari situ dihitung koefisien teknis, yaitu porsi input tiap sektor terhadap outputnya.

Koefisien teknis aᵢⱼ = Zᵢⱼ ÷ Xⱼ
Koefisien ini membentuk matriks A, lalu disusun menjadi kebalikan Leontief yang menghubungkan output total dengan permintaan akhir.

Kebalikan Leontief x = (I − A)⁻¹ f
Dampak belanja terhadap output total didapat dengan mengalikan kebalikan Leontief dengan suntikan belanja tadi.


Dampak ke output Δx = L · f ≈ Rp2.286.455.569.292
Perbandingan output total terhadap suntikan awal menghasilkan angka pengganda.

Pengganda ekonomi k = 2.286.455.569.292 ÷ 1.708.052.193.933 ≈ 1,39
Dari output itu dihitung nilai tambah tiap sektor, lalu dijumlahkan menjadi tambahan nilai tambah bruto.

Nilai tambah bruto ΔVA = Σ vᵢ Δxᵢ ≈ Rp1.533.576.149.081
Dibandingkan PDRB Jawa Barat sekitar Rp3.038 triliun, tambahan ini setara kontribusi sekitar 0,05 persen dalam jangka pendek.

Kontribusi PDRB 1.533.576.149.081 ÷ 3.038.667.950.000.000 ≈ 0,05%
Penghematan biaya operasional kendaraan

Jalan yang makin baik langsung menekan biaya operasional kendaraan atau BOK, mulai dari konsumsi BBM, ban, sampai perawatan. Untuk mengukurnya, dilihat dulu perubahan kondisi jalan dari 2024 ke 2025.

Pengurangan jalan rusak ΔL rusak ringan = 226,26 − 133,08 = 93,18 km ΔL rusak berat = 93,99 − 63,41 = 30,58 km
Sepanjang 93,18 km jalan rusak ringan dan 30,58 km jalan rusak berat berhasil diperbaiki. Penghematan biayanya dihitung dari selisih BOK di tiap kondisi jalan, dengan lalu lintas harian atau AADT sebesar 15.000 kendaraan.

Penghematan BOK setahun ΔBOK = 365 × AADT × [ΔL(RR) × (BOK(RR) − BOK(B)) + ΔL(RB) × (BOK(RB) − BOK(B))]
Dengan BOK jalan baik Rp3.000, rusak ringan Rp3.500, dan rusak berat Rp4.500 per kendaraan tiap km, hasilnya sebagai berikut.

Hasil penghematan BOK = 365 × 15.000 × [93,18(500) + 30,58(1000)] ≈ Rp422,5 M
Jadi perbaikan jalan ini menghemat biaya operasional kendaraan sekitar Rp422,5 miliar per tahun.
Baca Juga Pemadaman Listrik dan Utang PLN 191 M Hari?
Penghematan waktu tempuh warga
Jalan mulus juga memangkas waktu tempuh, dan waktu itu punya nilai ekonomi karena bisa dipakai bekerja. Nilai waktu dihitung dari upah per jam pekerja Jawa Barat sebesar Rp20.857 menurut data BPS.

Penghematan waktu setahun Saving = 365 × AADT × Occ × VoT × [ΔL(RR) × (1/V(RR) − 1/V(B)) + ΔL(RB) × (1/V(RB) − 1/V(B))]
Dengan keterisian 1,5 penumpang, kecepatan jalan baik 45, rusak ringan 30, dan rusak berat 22 km per jam, hasilnya sebagai berikut.

Hasil penghematan waktu = 365 × 15.000 × 1,5 × 20.857 × [93,18(1/30 − 1/45) + 30,58(1/22 − 1/45)] ≈ Rp199,35 M
Waktu yang dihemat setara nilai sekitar Rp199,35 miliar per tahun.
Pengurangan emisi karbon dari jalan mulus
Perbaikan jalan menurunkan konsumsi BBM sehingga emisi karbon ikut turun. Sebuah studi menemukan rehabilitasi jalan memangkas konsumsi bahan bakar dan emisi CO2 sekitar 10 persen.

Penghematan BBM Saving = AADT × L × FC × 10% × 365 = 15.000 × 123,76 × 0,07 × 10% × 365 ≈ 4,74 juta liter
Dengan tiap liter BBM menghasilkan sekitar 2,9 kg CO2, total emisi yang dipangkas sebagai berikut.

Pengurangan emisi 4,74 juta liter × 2,9 kg ≈ 11.382.799 kg CO2
Artinya jalan Jabar mulus berpotensi memangkas sekitar 11,38 juta kilogram emisi karbon per tahun.
Dampak jangka panjang menambah PDRB hingga 0,84 persen
Dalam jangka panjang, jalan yang lebih baik menaikkan produktivitas ekonomi. Efek ini diukur lewat elastisitas modal publik, dengan hasil studi meta analisis menyebut angka 0,13 untuk jangka pendek dan 0,16 untuk jangka panjang.
Dari total 123,76 km jalan yang diperbaiki terhadap panjang jalan provinsi 2.362,19 km, tambahan output jangka pendek dihitung sebagai berikut.


Tambahan output jangka pendek ΔY = 0,13 × (123,76 ÷ 2.362,19) × 3.038 T ≈ Rp20,69 T
Angka ini setara tambahan sekitar 0,681 persen terhadap PDRB Jawa Barat dalam 2 sampai 3 tahun ke depan.
Untuk jangka panjang dengan elastisitas 0,16, tambahan outputnya lebih besar.

Tambahan output jangka panjang ΔY = 0,16 × (123,76 ÷ 2.362,19) × 3.038 T ≈ Rp25,46 T
Dalam 5 sampai 10 tahun ke depan, perbaikan jalan ini berpotensi menambah sekitar 0,84 persen terhadap PDRB Jawa Barat.

Jika penjelasan dari artikel di atas masih kurang mengerti YUKK tonton video lengkapnya di sini