Janji 19 Juta Lapangan Kerja Prabowo Realistis atau Tidak?

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli optimistis target 19 juta lapangan kerja pemerintahan Prabowo dan Gibran bisa tercapai sampai 2029. Janji besar ini menuai pro dan kontra, tetapi jarang ada yang membedahnya dengan angka.

Pertanyaannya sederhana, apakah target 19 juta lapangan kerja itu realistis. Jawabannya bisa didekati lewat hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan jumlah orang yang bekerja.

Hubungan PDB dan penduduk bekerja lewat elastisitas

Untuk mengukur seberapa besar pertumbuhan ekonomi menyerap tenaga kerja, dipakai konsep elastisitas. Mengacu pada studi ILO Jakarta, hubungan ini diestimasi dengan metode OLS memakai data 1986 sampai 2025.

Modelnya menghubungkan logaritma jumlah penduduk bekerja dengan logaritma nilai PDB.

Model elastisitas ln L = b₀ + b₁ ln Y

Di sini L adalah jumlah penduduk bekerja, Y adalah nilai PDB, dan b₁ adalah elastisitasnya. Dari hasil regresi data puluhan tahun, garisnya sebagai berikut.

Hasil regresi ln L = 16,1 + 0,407 ln Y

Nilai R kuadrat mencapai 0,987, artinya sekitar 98,7 persen naik turunnya jumlah pekerja bisa dijelaskan oleh PDB. Angka elastisitas 0,407 berarti setiap kenaikan 1 persen PDB membuat jumlah pekerja naik sekitar 0,407 persen.

Pertumbuhan ekonomi yang dibutuhkan untuk 19 juta lapangan kerja

Pada 2025 jumlah penduduk bekerja Indonesia sekitar 146,54 juta orang. Untuk menambah 19 juta lapangan kerja, kenaikan yang dibutuhkan dihitung dari perbandingan berikut.

Kenaikan pekerja dibutuhkan 19 juta ÷ 146,54 juta ≈ 12,97%

Karena setiap 1 persen PDB hanya menambah 0,407 persen pekerja, total pertumbuhan PDB yang dibutuhkan didapat dengan membagi kenaikan pekerja tadi dengan elastisitasnya.

Pertumbuhan PDB total 12,97% ÷ 0,407 ≈ 31,88%

Angka 31,88 persen ini adalah total selama lima tahun pemerintahan. Untuk mendapatkan pertumbuhan per tahunnya, dipakai rumus pertumbuhan majemuk atau CAGR.

Pertumbuhan per tahun CAGR = (akhir ÷ awal)^(1/5) − 1 ≈ 5,70%

Jadi ekonomi Indonesia perlu tumbuh sekitar 5,70 persen setiap tahun selama lima tahun agar target 19 juta lapangan kerja tercapai.

Baca Juga Cairkan JHT Saat Pensiun Kena Pajak Rp12 Juta? Ini Aturan dan Hitungannya

Pertumbuhan sekarang masih kurang dari kebutuhan

Masalahnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 baru sekitar 5,11 persen menurut data BPS. Dibanding kebutuhan 5,70 persen, angka ini masih kurang sekitar 0,6 persen.

Untuk 2026, asumsi dasar ekonomi makro pemerintah mematok pertumbuhan 5,4 persen. Angka itu pun masih kurang sekitar 0,3 persen dari kebutuhan agar target 19 juta lapangan kerja tercapai.

Artinya, dengan laju pertumbuhan saat ini, target penciptaan lapangan kerja masih sedikit di luar jangkauan.

Baca Juga Luhut Sebut Bansos Nanti Bentuknya Uang Tunai Rp5,4 Juta per Orang!

Target 8 persen Prabowo membuat janji lapangan kerja lebih masuk akal

Kabar baiknya, Presiden Prabowo menegaskan komitmen mengejar pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen. Bila angka itu sungguh tercapai, kebutuhan 5,70 persen untuk 19 juta lapangan kerja jelas terlampaui.

Dengan kata lain, janji lapangan kerja Prabowo secara hitungan bukan hal mustahil. Kuncinya ada pada apakah pertumbuhan ekonomi bisa didorong dari kisaran 5 persen menuju 8 persen.

Tentu hitungan ini bersifat ilustratif dan mengandaikan pola masa lalu tetap berlaku. Kualitas lapangan kerja, sektor penyerap, dan tantangan global tetap menjadi faktor yang menentukan hasil akhirnya.

Jika penjelasan dari artikel di atas masih kurang mengerti YUKK tonton videonya di sini

Similar Posts