Pemerintah: WFH 1 Hari dalam Seminggu, Benarkah Hemat 20 Persen BBM?

Pemerintah resmi menerapkan kebijakan WFH 1 hari dalam seminggu bagi Aparatur Sipil Negara mulai 1 April 2026, berlaku setiap hari Jumat melalui Surat Edaran MenPAN RB Nomor 3 Tahun 2026.

Kebijakan WFH ASN ini diambil sebagai langkah efisiensi energi di tengah lonjakan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sempat menyebut WFH 1 hari bisa menghemat penggunaan BBM hingga 20 persen, meski ia sendiri mengakui itu hanya hitungan kasar.

Pertanyaannya, apakah klaim WFH 1 hari hemat 20 persen BBM itu benar?

Klaim WFH 1 Hari Bisa Hemat 20 Persen BBM

Wacana ini bermula dari pernyataan Menteri Keuangan bahwa kebijakan WFH 1 hari dalam sepekan berpotensi menekan konsumsi BBM hingga seperlima atau sekitar 20 persen.

Kebijakan WFH ASN setiap Jumat memang dirancang untuk mengurangi mobilitas harian pegawai sehingga konsumsi bensin ikut turun.

Namun, seberapa besar penghematan yang benar benar masuk akal? Untuk menjawabnya, kita perlu turun ke angka.

Hitungan Kasar di Balik Angka 20 Persen

Klaim 20 persen sebenarnya lahir dari logika yang sangat sederhana. Dalam sepekan kerja ada 5 hari. Jika 1 hari di antaranya dijadikan WFH, maka

1 hari WFH ÷ 5 hari WFO × 100 persen = 20%

Sekilas tampak masuk akal. Masalahnya, hitungan ini menganggap seluruh BBM yang biasa dipakai bekerja hilang sepenuhnya begitu pegawai WFH, padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

Tidak semua orang bekerja memakai kendaraan pribadi, dan tidak semua BBM dipakai untuk pergi ke kantor. Maka kita perlu hitungan yang lebih rinci.

Data Konsumsi Pertalite sebagai Titik Awal

Agar lebih jujur, kita fokus pada Pertalite, karena jenis inilah yang paling banyak dipakai masyarakat untuk bekerja sehari hari.

Berdasarkan data konsumsi BBM ritel periode 2019 sampai 2025, konsumsi Pertalite pada 2025 tercatat sekitar 28,1 juta kiloliter. Angka inilah yang menjadi dasar seluruh perhitungan kita berikutnya.

Baca Juga Luhut Sebut Bansos Nanti Bentuknya Uang Tunai Rp5,4 Juta per Orang!

Metode Pertama, Menghitung dari Konsumsi Kendaraan

Tidak semua Pertalite dipakai untuk pergi bekerja. Dari profil pengguna Pertalite berdasarkan kategori kendaraan, volume terbesar disumbang sepeda motor atau Roda 2 sebanyak 28,6 persen dan mobil di bawah 1400 cc sebanyak 31,4 persen.

Dua kelompok inilah kendaraan harian para pekerja. Maka konsumsi keduanya

konsumsi motor = 28,1 juta kl × 28,6 persen = 8,1 juta kl konsumsi mobil di bawah 1400 cc = 28,1 juta kl × 31,4 persen = 8,8 juta kl

Totalnya sekitar 16,9 juta kiloliter per tahun. Inilah konsumsi yang paling mungkin terpengaruh kebijakan WFH 1 hari.

Hasil Batas Bawah, Hanya Sekitar 6,4 Persen

Bila total 16,9 juta kiloliter itu dibagi 365 hari, konsumsi hariannya sekitar 46.302 kiloliter per hari.

Karena kebijakan WFH ASN berlaku 1 hari per minggu selama sekitar 39 minggu dalam setahun, penghematannya adalah konsumsi satu hari dikalikan 39

46.302 kl × 39 = 1,81 juta kl per tahun

Dibandingkan total konsumsi Pertalite 28,1 juta kl, penghematannya hanya sekitar

1,81 juta kl ÷ 28,1 juta kl = 6,4 persen

Hasilnya jauh dari 20 persen. Tetapi ini baru batas bawah, sebab kita baru menghitung sepeda motor dan mobil kecil.

Baca Juga Kunjungan Luar Negeri Prabowo, Berapa sih Biayanya?

Hasil Batas Atas dengan Semua Kendaraan, 10,3 Persen

Sekarang kita longgarkan asumsinya dengan memasukkan hampir semua kendaraan. Dari data, kendaraan menyumbang 96,3 persen konsumsi Pertalite, yang dihitung dari 1.929.032 unit kendaraan dibanding total 1.929.032 ditambah 72.609 pengguna non kendaraan.

Maka konsumsi kendaraan menjadi 28,1 juta kl × 96,3 persen = 27,1 juta kl per tahun, atau sekitar 74.138 kiloliter per hari. Penghematannya

74.138 kl × 39 = 2,89 juta kl per tahun 2,89 juta kl ÷ 28,1 juta kl = 10,3 persen

Jadi dengan metode pertama, WFH 1 hari menghemat sekitar 6,4 persen sampai 10,3 persen konsumsi Pertalite, tergantung seberapa luas kendaraan yang diperhitungkan.

Metode Kedua, Menghitung dari Jumlah Pekerja

Agar lebih yakin, kita uji dengan metode kedua, yaitu dari jumlah pekerja. Menurut data ketenagakerjaan, jumlah pekerja penuh di Indonesia sekitar 100,5 juta orang.

Andai separuhnya, yaitu sekitar 50,25 juta orang, merupakan pekerja yang bisa menjalankan WFH dan biasa memakai kendaraan, serta dengan asumsi rata rata satu motor menghabiskan 1,5 liter bensin untuk satu hari perjalanan kerja, maka konsumsi hariannya

50,25 juta orang × 1,5 liter = 75,34 ribu kiloliter per hari

Hasil Metode Kedua, Sekitar 10,46 Persen

Sama seperti sebelumnya, penghematan setahun adalah konsumsi satu hari dikalikan 39 minggu

75,34 ribu kl × 39 = 2,94 juta kl per tahun 2,94 juta kl ÷ 28,1 juta kl = 10,46 persen

Hasil metode kedua ini sekitar 10,46 persen, hampir sama dengan batas atas metode pertama.

Sebagai pembanding, perhitungan resmi pemerintah dalam dokumen kebijakan menyebut penghematan 4,74 juta kiloliter dikalikan Rp12.500 per liter sama dengan Rp59,2 triliun untuk sekitar 39 minggu.

Angka pemerintah lebih besar karena mencakup seluruh jenis BBM, bukan Pertalite saja.

Berapa Uang yang Dihemat Pemerintah dan Masyarakat

Lalu berapa nilai rupiahnya? Ada dua sisi. Pertama, penghematan subsidi pemerintah. Karena harga asli Pertalite menurut Menteri Keuangan sekitar Rp11.700 per liter sedangkan harga jualnya Rp10.000, pemerintah menanggung subsidi sekitar Rp1.700 per liter. Maka

hemat subsidi = Rp1.700 × (1,81 sampai 2,89 juta kl) = sekitar Rp3,1 sampai Rp4,9 triliun per tahun

Kedua, penghematan uang masyarakat karena berkurangnya pembelian bensin

hemat masyarakat = Rp10.000 × (1,81 sampai 2,89 juta kl) = sekitar Rp18,1 sampai Rp28,9 triliun per tahun

Kesimpulan, Bukan 20 Persen tapi Sekitar 10 Persen

Dari dua metode tadi, kesimpulannya cukup jelas. Kebijakan WFH 1 hari memang menghemat BBM, tetapi besarnya sekitar 6,4 persen sampai 10,46 persen konsumsi Pertalite, atau kira kira 10 persen, bukan 20 persen seperti klaim kasar di awal.

Penghematan subsidi pemerintah berkisar Rp3 sampai Rp5 triliun per tahun, sementara penghematan uang masyarakat jauh lebih besar, sekitar Rp18 sampai Rp29 triliun per tahun.

Jika penjelasan dari artikel di atas masih kurang paham YUKK tonton videonya di sini

Similar Posts