Antrian Naik Pesawat Tidak Efisien Membakar Triliunan Rupiah Setahun?
Antrean masuk ke pesawat terasa wajar bagi hampir semua penumpang. Petugas memanggil nomor kursi bagian belakang lebih dulu, penumpang berbaris, lalu satu per satu menaruh bagasi kabin dan duduk. Prosesnya terlihat tertib.
Secara matematika, cara itu justru paling lambat di antara seluruh metode yang pernah diuji. Metode boarding pesawat yang dipakai hampir semua maskapai membuat pesawat menganggur di darat lebih lama dari seharusnya, dan waktu menganggur itu ada harganya. Bila dihitung sampai ujung, kerugiannya menembus Rp1,8 triliun setiap tahun.
Antrean Masuk Pesawat Ternyata Tidak Efisien
Persoalannya bukan pada penumpang yang lamban. Persoalannya ada pada urutan masuk yang ditetapkan maskapai.
Selama antrean bergerak, pesawat berhenti di darat dengan mesin siap, kru lengkap, dan jadwal berjalan. Setiap menit tambahan di fase ini menimbulkan biaya nyata yang jarang disadari penumpang.
Biaya Pesawat Menganggur di Darat
Data industri penerbangan mencatat biaya keterlambatan pesawat di darat berkisar dari 95 dolar AS per menit untuk pesawat berbadan sempit seperti Airbus A320, hingga 150.000 dolar AS per jam ketika pesawat benar benar tidak bisa terbang akibat gangguan mekanis berat atau perawatan, kondisi yang dikenal sebagai Aircraft on Ground.
Angka 95 dolar AS per menit itulah yang dipakai sebagai titik berangkat, karena pesawat berbadan sempit adalah tulang punggung penerbangan domestik.
Baca Juga Minyak Jelantah Bekas Gorengan Bernilai Rp46 Triliun Jadi Avtur?
Mengubah Dolar per Menit Menjadi Rupiah
Biaya tersebut lebih mudah dipahami bila dikonversi ke rupiah memakai kurs berjalan.

Biaya Menganggur per Menit US$ 95 per menit × Rp17.988,20 = Rp1.708.860 per menit
Setiap satu menit pesawat tertahan di darat, biaya yang berjalan mencapai Rp1,7 juta lebih.
Keterlambatan Dua Puluh Menit Setiap Penerbangan
Antrean boarding yang tidak efisien menambah waktu tunggu di darat. Bila tambahan itu diasumsikan dua puluh menit untuk satu penerbangan, biayanya langsung terlihat.

Biaya per Penerbangan Rp1.708.860 per menit × 20 menit = Rp34.177.200
Seratus Lima Puluh Penerbangan Setiap Hari
Satu penerbangan hanyalah satu titik. Maskapai mengoperasikan ratusan penerbangan setiap hari, dan angka tadi berlipat mengikuti jumlahnya.

Biaya per Hari Rp34.177.200 × 150 penerbangan ≈ Rp5,1 M
Kerugian Setahun Menembus Rp1,8 Triliun
Langkah terakhir mengalikan biaya harian dengan jumlah hari dalam setahun.

Kerugian per Tahun Rp5,1 M × 365 hari ≈ Rp1,8 T
Artinya maskapai membakar sekitar Rp1,8 triliun setiap tahun hanya karena metode antrean yang keliru. Bukan karena harga bahan bakar, bukan karena cuaca, melainkan karena urutan penumpang naik pesawat.
Metode Back to Front yang Dipakai Hampir Semua Maskapai
Metode yang lazim dipakai adalah boarding dari belakang ke depan, atau back to front. Penumpang di baris paling belakang dipanggil lebih dulu, lalu bergerak maju baris demi baris.
Logikanya terdengar masuk akal karena penumpang tidak perlu melewati penumpang lain yang sudah duduk. Kenyataannya justru sebaliknya.
Antrean Berhenti Karena Bagasi Kabin
Hambatan pertama muncul di lorong. Ketika satu penumpang berhenti untuk menaruh tas di kompartemen atas, seluruh antrean di belakangnya ikut berhenti.
Karena semua penumpang dalam satu kelompok duduk berdekatan, mereka menaruh bagasi di titik yang berdekatan pula. Lorong menjadi macet di satu tempat, sementara bagian lorong lainnya kosong.
Penumpang Harus Keluar Dulu dari Kursinya
Hambatan kedua muncul di dalam baris kursi. Penumpang yang duduk di sisi lorong sering datang lebih dulu dibanding penumpang yang duduk di sisi jendela.
Ketika penumpang jendela akhirnya tiba, penumpang yang sudah duduk harus berdiri, keluar ke lorong, memberi jalan, lalu duduk kembali. Selama itu berlangsung, antrean di belakangnya berhenti total.
Perbandingan Waktu Back to Front dan Boarding Acak
Pengujian membandingkan waktu total kedua metode, dan hasilnya berlawanan dengan dugaan umum.
| Metode Boarding | Waktu |
|---|---|
| Back to front by row | 1.227 detik |
| Random assigned seat | 864 detik |
Metode teratur memakan sekitar 1.227 detik. Metode acak, tempat penumpang masuk tanpa urutan, justru selesai dalam 864 detik.
Mengapa Boarding Acak Justru Lebih Cepat
Hasil itu terasa berlawanan dengan akal sehat, sampai penyebabnya dipahami. Pada boarding acak, penumpang tersebar ke seluruh panjang kabin.
Karena posisi mereka berjauhan, banyak orang bisa menaruh bagasi dan duduk pada saat bersamaan tanpa saling menghalangi. Keteraturan justru memusatkan kemacetan, sedangkan keacakan menyebarkannya.
Baca Juga Grounding Listrik Jadi Alasan Tegangan 220 Volt Tak Menyetrum Penghuni
Degree of Parallelism Menjelaskan Seluruhnya
Ukuran yang menjelaskan fenomena ini disebut degree of parallelism atau tingkat paralelisme, biasa dilambangkan dengan huruf P. Ukuran ini menunjukkan berapa banyak kegiatan yang dapat berlangsung serentak dalam satu waktu.
Semakin besar nilai P, semakin banyak penumpang yang bisa bergerak bersamaan, dan semakin singkat total waktu boarding.
Nilai P Hanya Satu pada Metode Back to Front
Pada metode back to front, nilai P sama dengan satu. Artinya dalam satu waktu hanya ada satu kegiatan yang benar benar berlangsung.
Semua penumpang lain sekadar berdiri menunggu orang di depannya selesai menaruh bagasi atau masuk ke kursinya. Inilah akar dari angka 1.227 detik tadi.
Metode WilMA Mengisi dari Jendela ke Lorong
Metode yang lebih efisien dikenal sebagai WilMA, singkatan dari window middle aisle. Urutannya tidak lagi berdasarkan letak baris, melainkan berdasarkan posisi kursi.
Penumpang di kursi dekat jendela masuk lebih dulu, disusul penumpang di kursi tengah, dan terakhir penumpang di kursi dekat lorong. Dengan begitu tidak ada lagi penumpang yang harus berdiri memberi jalan.
Nilai P Naik Menjadi Lima pada Metode WilMA
Perubahan urutan itu langsung menaikkan tingkat paralelisme. Pada metode WilMA nilai P naik menjadi lima.
Artinya dalam satu waktu bisa ada lima orang yang bergerak secara paralel, menaruh bagasi dan duduk bersamaan di titik berbeda sepanjang kabin.
Waktu Boarding WilMA Turun ke 605 Detik
Kenaikan nilai P tercermin langsung pada waktu total.
| Metode Boarding | Waktu |
|---|---|
| Back to front by row | 1.227 detik |
| Random assigned seat | 864 detik |
| WilMA atau window middle aisle | 605 detik |
Metode WilMA menyelesaikan boarding dalam 605 detik, sekitar setengah kali lebih cepat dibanding metode back to front.
Metode Steffen Perfect Menggabungkan Dua Prinsip
WilMA ternyata bukan yang tercepat. Ada metode lain bernama Steffen, yang menggabungkan prinsip WilMA dengan pengaturan baris.
Penumpang diisi mulai dari kursi jendela di bagian belakang, tetapi dengan jarak antarbaris, sehingga dua penumpang yang berurutan dalam antrean duduk beberapa baris terpisah. Setiap orang memperoleh ruang sendiri untuk menaruh bagasi tanpa bersinggungan.
Nilai P Menembus Dua Belas pada Metode Steffen
Pengaturan berjarak itu membuat tingkat paralelisme melonjak. Pada metode Steffen nilai P naik menjadi dua belas.
Dua belas penumpang dapat bergerak serentak di sepanjang kabin, dan lorong nyaris tidak pernah tersumbat di satu titik.
Reverse Pyramid Menutup Tabel di 530 Detik
Metode dengan waktu tercepat dalam tabel pengujian adalah reverse pyramid, yang menggabungkan prinsip kursi jendela lebih dulu dengan prioritas bagian belakang kabin.
| Metode Boarding | Waktu |
|---|---|
| Back to front by row | 1.227 detik |
| Random assigned seat | 864 detik |
| WilMA atau window middle aisle | 605 detik |
| Reverse pyramid | 530 detik |
Hasilnya hanya sekitar 500 detikan, jauh lebih cepat dibanding metode back to front biasa yang memakan 1.227 detik.
Selisih Waktu yang Berubah Menjadi Uang
Di sinilah kedua bagian artikel ini bertemu. Selisih antara metode paling lambat dan metode tercepat mencapai ratusan detik untuk setiap penerbangan.
Karena setiap menit di darat berharga Rp1.708.860, selisih waktu itu berubah langsung menjadi selisih rupiah, dan berlipat mengikuti jumlah penerbangan setiap hari sepanjang tahun.
Mengapa Maskapai Tetap Bertahan pada Cara Lama
Pertanyaan yang wajar muncul adalah mengapa metode tercepat tidak dipakai. Alasannya bukan matematis, melainkan praktis.
Metode Steffen menuntut antrean yang tersusun sempurna satu per satu, sehingga berpotensi memisahkan rombongan keluarga.
Maskapai juga menjual prioritas masuk sebagai layanan berbayar bagi penumpang kelas atas, dan urutan berbasis kursi akan bertabrakan dengan skema itu. Beberapa maskapai internasional sudah mulai menerapkan WilMA sebagai jalan tengah karena lebih mudah dijalankan.
Jika penjelasan dari artikel di atas masih kurang mengerti YUKK tonton videonya di sini